ASIAWORLDVIEW – Di tengah riuh rendah teriakan dan tawa yang mewarnai perlombaan panjat pinang setiap 17 Agustus, ada sebuah lapisan sejarah yang sering terlupakan—sebuah cerita kelam yang tersembunyi di balik gemerlap hadiah dan gelak ceria para penonton. Tradisi yang kini identik dengan perjuangan gotong royong dan tontonan rakyat ini ternyata berakar dari masa kolonial Belanda, tepatnya pada era 1920-an hingga 1930-an, ketika lomba ini digelar untuk meramaikan pesta besar, termasuk perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina.
Pada masa itu, panjat pinang bukanlah ajang kebersamaan, melainkan sebuah pentas yang sengaja dirancang untuk memperkuat jurang sosial antara penjajah dan pribumi. Batang pohon pinang yang tinggi dipoles dengan pelumas licin, sementara para peserta—yang semuanya berasal dari kalangan rakyat jelata—harus berjuang mati-matian memanjat di bawah terik matahari, saling memijak dan tergelincir, hanya untuk memperebutkan hadiah-hadiah yang sebenarnya adalah barang-barang konsumsi biasa seperti keju, gula, atau kain, Asia World View mengutip Antara, Rabu (12/8/2026).
Di atas kursi-kursi yang teduh, para tuan tanah Belanda menyaksikan atraksi ini sambil tertawa terbahak-bahak, menikmati setiap kesulitan dan kepayahan yang dialami para pribumi sebagai hiburan semata. Ini cerminan nyata dari bagaimana rakyat jajahan saat itu diposisikan sebagai objek tontonan yang menghibur, bukan sebagai manusia yang setara.
Baca Juga: Nasi Tumpeng Ikon 17 Agustus: Dari Istana Merdeka ke Meja Rakyat, Menyimpan Doa Nusantara
Hadiah-hadiah yang digantung di puncak tiang bukanlah sekadar barang, melainkan simbol pahit dari ketidakadilan struktural. Bagi masyarakat pribumi kala itu, gula dan keju adalah komoditas mewah yang hampir mustahil dijangkau dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka rela menanggung luka dan kelelahan demi sepotong kue atau selembar kain—sesuatu yang sejatinya menjadi hak mereka untuk menikmati hasil bumi negeri sendiri, tetapi justru dijadikan umpan dalam permainan sadis kaum penjajah.
Setiap kali seorang peserta terjatuh dari ketinggian, sorak-sorai dan cemoohan justru semakin keras, mengubah penderitaan menjadi tontonan yang merendahkan martabat. Fakta bahwa tradisi ini terus berlanjut hingga masa kemerdekaan menjadi sebuah ironi yang tak terhindarkan, karena meskipun Indonesia telah lepas dari belenggu kolonial, jejak sejarahnya tetap membekas dalam bentuk lomba yang kita kenal sekarang.
Namun, waktu bergerak dan makna pun bergeser. Setelah proklamasi kemerdekaan, masyarakat Indonesia secara perlahan merebut kembali narasi panjat pinang dan mengubahnya menjadi simbol perlawanan yang baru. Batang pinang yang licin tidak lagi dilihat sebagai rintangan yang menghina, melainkan sebagai representasi dari kerasnya kehidupan yang harus dihadapi dengan kerja sama dan kegigihan, mengutip dari siaran yang tayang di RRI.
Bergotong royong, para peserta dari berbagai lapisan masyarakat saling memijak bahu, mendorong satu sama lain untuk mencapai puncak, sementara hadiah-hadiah yang tergantung kini berubah menjadi barang-barang yang lebih membumi—sembako, peralatan dapur, atau perlengkapan sekolah—yang justru menguatkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Lomba ini pun berubah fungsi menjadi panggung tawa yang setara, di mana semua orang, tua-muda, kaya-miskin, dapat berpartisipasi tanpa ada pihak yang menertawakan di atas kursi istimewa.
Namun, di balik gelak tawa dan semangat sportivitas itu, ada bisikan sejarah yang mengingatkan kita bahwa hiburan rakyat hari ini pernah lahir dari luka dan air mata. Panjat pinang mengajarkan kita bahwa sebuah tradisi tidak harus dibaca secara hitam-putih; ia bisa menjadi cermin untuk merefleksikan sejauh mana kita telah melangkah sebagai bangsa, sambil tetap menghormati dan mengingat para pendahulu yang perjuangannya tidak selalu berakhir dengan tawa.

