Pariwisata NTT Pasca Gempa M7,7 Mulai Pulih

Wisatawan asing berkumpul di lokasi aman pasca gempa bumi SR7,7 mengguncang NTT.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Beberapa hari setelah goncangan dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus lalu, kabar pemulihan mulai berhembus dari sektor pariwisata. Namun, tak berlangsung seragam di semua titik.

Gempa menyebabkan sejumlah hotel, homestay, dan resort mengalami retakan hingga roboh, sehingga kapasitas akomodasi bagi wisatawan menurun drastis. Fasilitas publik seperti bandara kecil, pelabuhan, dan jalan menuju destinasi wisata rusak parah, menghambat akses transportasi dan distribusi logistik. Selain itu, banyak objek wisata alam seperti pantai, gua, dan spot diving mengalami kerusakan ekosistem akibat gempa susulan dan potensi tsunami kecil yang sempat terjadi.

Mengutip keterangan pers Kementerian Pariwisata, Rabu (19/8/2026), melalui Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), masih melakukan verifikasi lapangan, secara berkala ke hotel, restoran, dan destinasi wisata. Hal ini dilakukan untuk memastikan keamanan.

Pemantauan dilakukan melalui verifikasi lapangan secara berkala ke hotel, restoran, dan destinasi wisata, sekaligus pengoperasian hotline informasi pariwisata bagi wisatawan dan pelaku usaha untuk memastikan informasi yang disampaikan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga: Trauma Berkepanjangan Bayangi Korban Gempa NTT

Mayoritas hotel besar di Manggarai Barat, seperti Ayana, Crowne Plaza, Sudamala, Ta’aktana Marriott, dan Meruorah, dilaporkan dalam kondisi aman dengan kerusakan ringan. Pasokan listrik dan jaringan internet juga telah kembali normal. Namun, Hotel Jayakarta mengalami kerusakan struktural berat sehingga harus ditutup sementara, dan seluruh tamunya telah dievakuasi.

Akses pelayaran dari Pelabuhan Marina Labuan Bajo sudah beroperasi normal, dan kapal-kapal wisata kembali meluncur menuju pulau-pulau ikonik seperti Padar, Loh Liang, Loh Buaya, dan Gili Lawa. Antusiasme wisatawan pun terlihat jelas, pada 17 Agustus 2026 saja, lebih dari 2.000 orang berkunjung ke kawasan Komodo, sementara 308 kapal mengangkut 3.651 penumpang pada sehari sebelumnya. Destinasi lain seperti Pulau Kelor, Kampung Adat Todo, dan Batu Cermin yang telah buka sejak 16 Agustus juga ikut meramaikan suasana.

Namun di tengah sukacita itu, langkah hati-hati tetap diutamakan. Sejumlah destinasi masih harus ditutup sementara demi keselamatan. Wae Rebo dan Ruteng Pu’u di Manggarai, Taman Nasional Kelimutu di Ende yang terdampak longsoran dinding kawah, serta Taman Wisata Alam Laut Gugus Pulau Teluk Maumere di Sikka, masih belum bisa dikunjungi.

Begitu pula kawasan di Ngada dan Nagekeo yang masih terkendala komunikasi dan listrik. Penyesuaian juga terjadi di sektor penerbangan, Bandara Ende menutup operasi hingga 20 Agustus, sementara Bandara Ruteng menghentikan penerbangan Wings Air sampai 22 Agustus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *