ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hari ini, Selasa (21/7/2026), bergerak di kisaran Rp 17.936–Rp 17.976 per USD. Pembukaan pasar spot di Rp 17.937/USD, menguat tipis 11 poin atau sekitar 0,06% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.948/USD. Kurs acuan Bank Indonesia menetapkan posisi tengah di Rp 17.976/USD , dengan kurs jual di Rp 18.065/USD dan kurs beli di Rp 17.886/USD.
Perdagangan di bank-bank besar menunjukkan variasi tipis: BCA mencatat kurs beli Rp 17.923 dan kurs jual Rp 17.943 (e-rate), Mandiri kurs beli Rp 17.955 dan kurs jual Rp 17.985 (special rate), BRI kurs beli Rp 17.937 dan kurs jual Rp 17.967, serta kurs beli BNI Rp 17.930 dan kurs jual Rp 17.960.
Pergerakan rupiah ini terjadi di tengah tekanan global yang cukup kuat. Geopolitik Timur Tengah kembali memanas akibat ketegangan AS–Iran, termasuk serangan di Yordania dan Teluk, yang memicu mengalirnya harga minyak dunia dan memperkuat dolar AS sebagai aset safe haven.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Tegaskan Tarif Tak Akan Naik, Pemerintah Fokus Perluasan Basis Pajak
Indeks dolar AS stabil di sekitar 100,96, mendekati level tertinggi sepekan, sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah. Meski demikian, masuknya dana asing ke pasar keuangan Indonesia memberikan sentimen positif yang membantu rupiah bertahan di bawah tekanan.
Dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan hanya 4,9% yoy, sedikit di bawah target 5%. Konsumsi rumah tangga yang masih lesu meski investasi tumbuh 7,1% yoy. Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter The Fed dan energi inflasi, yang berpotensi memperpanjang kebijakan ketat dan menekan rupiah.
Rupiah menunjukkan pergerakan yang relatif stabil namun tetap berada di dekat level psikologis Rp 18.000/USD , mencerminkan sensitivitas tinggi terhadap faktor eksternal sekaligus perlunya kebijakan domestik yang hati-hati untuk menjaga nilai stabilitas tukar.

