ASIAWORLDVIEW – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menekankan bahwa pesatnya perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI) dan tokenisasi aset membuka peluang besar bagi pengembangan sektor keuangan Indonesia. Menurutnya, transformasi digital yang terjadi saat ini bukan sekadar tren, melainkan fondasi baru yang akan membentuk cara masyarakat berinteraksi dengan layanan keuangan.
“Artificial Intellegence, misalnya, dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi operasional perbankan, memperkuat sistem deteksi fraud, serta memberikan layanan yang lebih personal kepada nasabah,” ia mengatakan.
Sementara itu, tokenisasi aset memungkinkan instrumen keuangan tradisional seperti obligasi, saham. Bahkan aset riil seperti properti untuk diubah menjadi token digital yang lebih mudah diperdagangkan, transparan, dan likuid.
OJK melihat bahwa teknologi mampu memperluas inklusi keuangan, menjangkau masyarakat yang sebelumnya sulit mengakses layanan perbankan, sekaligus mendorong efisiensi biaya transaksi. Namun, di sisi lain, perkembangan ini juga membawa risiko baru, seperti potensi penyalahgunaan data, manipulasi pasar, hingga munculnya produk keuangan digital yang tidak memiliki landasan hukum jelas.
Baca Juga: Roadmap OJK Perkuat Ekosistem Inovasi Kripto dan Keuangan Digital
“Perkembangan teknologi yang pesat, mulai dari artificial intelligence hingga tokenisasi aset, membuka peluang besar bagi pengembangan sektor keuangan. Peluang ini harus dimanfaatkan secara optimal, namun tetap dalam kerangka tata kelola yang sehat dan berlandaskan prinsip kehati-hatian,” jelasnya.
OJK berkomitmen untuk memperkuat regulasi dan pengawasan. Hal ini agar inovasi teknologi dapat berjalan seiring dengan perlindungan konsumen dan stabilitas sistem keuangan.
Dengan dorongan teknologi, sektor keuangan Indonesia diharapkan mampu bersaing secara global, menarik investasi, dan memperkuat ekosistem digital nasional.
Friderica menekankan bahwa kolaborasi antara regulator, pelaku industri, dan masyarakat menjadi kunci agar transformasi ini tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan sistem keuangan yang inklusif, aman, dan berkelanjutan.
