Alaya Kala: Adi Gunawan Hadirkan Eksplorasi Sankhara dalam Patung Monumental

Pameran tunggal Alaya Kala karya Adi Gunawan menghadirkan eksplorasi mendalam tentang konsep Sankhara,

ASIAWORLDVIEW Pameran tunggal Alaya Kala karya Adi Gunawan menghadirkan eksplorasi mendalam tentang konsep Sankhara, yang dalam tradisi Buddhis merujuk pada formasi mental atau kondisi batin yang membentuk pengalaman manusia. Adi menerjemahkan gagasan filosofis ini ke dalam patung-patung yang merekam jejak memori, kenangan masa kecil, serta refleksi spiritual.

Bentuk tubuh gempal, gestur sederhana, dan simbol hewan menjadi bahasa visual yang lugas namun sarat makna, menghadirkan cerita personal tentang hubungan manusia dengan alam dan memori masa lalu. Setiap karya bukan hanya objek visual tetapi juga ruang naratif yang berinteraksi dengan penonton.

“Melalui patung-patung berukuran monumental dengan detail yang halus, Adi Gunawan menekankan harmoni antara kekuatan dan kelembutan, gerak dan ketenangan, serta disiplin dan kebebasan,” sebut Vivin, perwakilan pameran dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).

Pameran tunggal Alaya Kala karya Adi Gunawan menghadirkan eksplorasi mendalam tentang konsep Sankhara,
Pameran tunggal Alaya Kala karya Adi Gunawan menghadirkan eksplorasi mendalam tentang konsep Sankhara,

Baca Juga: Seni dan Bisnis Berpadu di Instalasi Catur Interaktif Art Jakarta Papers 2026

Setiap bentuk yang dihadirkan bukan sekadar representasi anatomi manusia, melainkan simbol dari pencarian makna hidup, stabilitas di tengah perubahan, dan keindahan dalam proses menemukan keseimbangan. Ruang pamer ALAYA KALA dirancang untuk memperkuat pengalaman ini.

Pengunjung seolah diajak masuk ke dalam narasi yang mengalir. Setiap karya menjadi bab yang menyuarakan nilai universal tentang ketenangan, keberanian, dan kebijaksanaan.

Cerita yang dibangun melalui SANKHARA dalam ALAYA KALA juga menyinggung dimensi kontemporer, yakni bagaimana seni dapat menjadi jembatan antara tradisi dan kehidupan modern. Dengan memanfaatkan material seperti perunggu dan fiber, Adi Gunawan menghadirkan karya yang kokoh sekaligus lentur, mencerminkan dualitas kehidupan manusia.

“Pameran ini bukan hanya perayaan estetika, tetapi juga undangan untuk merenung: bagaimana tubuh, pikiran, dan jiwa dapat menyatu dalam tarian keseimbangan, serta bagaimana seni mampu menjadi medium untuk memahami perjalanan eksistensial manusia,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *