ASIAWORLDVIEW – Perayaan Tahun Baru di Haiti hari ini, Kamis (1/1/2026), memiliki makna yang lebih dalam. Hal itu karena bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan negara tersebut pada 1 Januari.
Masyarakat Haiti merayakan tahun baru bukan hanya sebagai pergantian kalender, tetapi juga sebagai simbol kebebasan dan identitas nasional. Tradisi paling khas adalah menyajikan soup joumou, sup labu yang kaya rempah dan daging, yang dahulu hanya boleh dikonsumsi oleh kaum kolonial.
Pada hari itu pula negara tersebut memperoleh nama baru. Sebelumnya dikenal sebagai Saint-Domingue, wilayah tersebut merupakan koloni paling menguntungkan Prancis, dengan ekonomi perkebunannya bergantung pada sistem perbudakan yang kejam.
Setelah merdeka, warga Haiti makan—setidaknya, menurut legenda seputar asal-usul sup joumou, sup labu yang dengan cepat menjadi simbol kemerdekaan Haiti. Hidangan ini menjadi subjek dokumenter mendatang, “Liberty in a Soup,” oleh sutradara Dudley Alexis, yang bepergian ke Haiti untuk menyelidiki sejarahnya.
Baca Juga: Tradisi Rayakan Malam Tahun Baru di Indonesia, Festival Budaya hingga Pesta Kembang Api
Setelah merdeka pada 1804, soup joumou menjadi simbol kemenangan rakyat Haiti atas penindasan dan kini disajikan setiap tahun baru sebagai wujud kebanggaan dan kebersamaan. Selain itu, perayaan diwarnai dengan doa, musik, dan kumpul keluarga, mencerminkan semangat komunitas yang kuat. Dengan demikian, tahun baru di Haiti bukan sekadar pesta, melainkan momen refleksi sejarah dan perayaan identitas bangsa.
Setelah pemberontakan yang berkembang menjadi revolusi penuh, budak-budak Haiti dan gens de couleur libres—orang-orang bebas berkulit berwarna—mengalahkan militer Prancis dan mendeklarasikan diri sebagai republik. Nama baru tersebut juga merupakan nama lama: Haiti (dalam bahasa Kreol Haiti, Ayiti) berasal dari kata asli suku Taino untuk wilayah tersebut. Artinya “tanah pegunungan.”
“Tidak ada catatan tertulis,” kata Alexis kepadaku. “Tapi kisah di baliknya adalah, orang kulit hitam dan budak tidak diizinkan minum sup itu.” Itu adalah hidangan mewah—sesuatu yang disediakan khusus untuk tuan budak Prancis. Ketika orang Haiti mengusir Prancis, mereka memberikan makna baru pada makanan yang sebelumnya dilarang itu.
“Sup ini menjadi simbol kemerdekaan dan kebebasan Haiti,” kata Alexis.
