ASIAWORLDVIEW – Gelombang panas di Eropa menjadi kondisi yang mengkhawatirkan bagi masyarakat. Spanyol dan Prancis bersiap menghadapi kemungkinan gelombang panas lainnya yang berpotensi menyebabkan suhu mencapai 44°C. Sementara data menunjukkan bahwa gelombang panas ekstrem pada bulan Juni menjadi penyebab lebih dari 2.000 kematian berlebih di kedua negara tersebut.
Badan Meteorologi Negara Spanyol, Aemet, mengatakan bahwa massa udara kering dan sangat panas akan menyebabkan suhu tinggi yang berkepanjangan di sebagian besar wilayah Spanyol mulai Sabtu, dan menambahkan bahwa suhu di beberapa wilayah di tenggara bisa mencapai 42°C hingga 44°C, dikutip dari Guardian, Jumat (3/7/2026).
“Suhu akan mulai naik pada akhir pekan ini dan kami tidak dapat mengesampingkan kemungkinan terjadinya gelombang panas lainnya,” kata Rubén del Campo, juru bicara Aemet. Badan tersebut menyatakan bahwa suhu tinggi tersebut dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan pada minggu depan dan memperingatkan para lansia serta mereka yang memiliki masalah kardiovaskular untuk lebih berhati-hati saat cuaca panas di siang hari.
Aemet menyebutkan bahwa bulan lalu merupakan Juni terpanas kedua dalam catatan sejarah. Kondisi ini hanya dikalahkan oleh Juni 2025, dengan suhu rata-rata 3,2°C di atas normal.
Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Tingkatkan Risiko Heatstroke hingga Kematian
Para ilmuwan menyatakan bahwa gelombang panas tersebut, yang merupakan yang terparah dan tersebar luas yang pernah melanda Eropa Barat. Ini hanya mungkin terjadi akibat krisis iklim yang dipicu oleh pembakaran bahan bakar fosil.
Data sementara dari Spanyol dan Prancis menunjukkan bahwa sekitar 1.000 orang tewas di masing-masing negara akibat panas ekstrem tersebut. Menurut data dari sistem pemantauan angka kematian harian Kementerian Kesehatan Spanyol, MoMo, terdapat 1.029 kematian berlebih yang disebabkan oleh suhu tinggi pada bulan Juni.
Badan Kesehatan Masyarakat Prancis mengatakan bahwa gelombang panas selama 10 hari pada akhir Juni, yang menurut para ahli merupakan yang paling ekstrem yang pernah dialami negara tersebut. Kondisi ini telah menyebabkan sekitar 1.000 kematian tambahan dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya antara tanggal 24 dan 28 Juni, namun mereka memperingatkan bahwa angka tersebut belum lengkap. Jumlah korban akhir belum dirilis.
Nicolas Revel, kepala rumah sakit di wilayah Paris, mengatakan pekan ini bahwa ia tidak memperkirakan jumlah kematian berlebih akan menyamai angka 15.000 yang tercatat pada tahun 2003, gelombang panas terparah yang pernah dialami Prancis sebelumnya, “karena kami telah membuat banyak kemajuan di berbagai bidang”. Namun, ia memperkirakan jumlah kematian terkait panas akan lebih tinggi daripada 5.700 yang tercatat tahun lalu.
Layanan darurat medis SOS-Médecins melaporkan adanya peningkatan 85% dalam jumlah kematian di kalangan orang berusia di atas 75 tahun selama dua minggu terakhir bulan Juni. Sebanyak 513 orang lanjut usia meninggal dunia selama pekan yang berakhir pada 22 Juni, dibandingkan dengan 278 orang pada pekan sebelumnya.
Panggilan darurat untuk kelompok usia tersebut, terutama terkait suhu tubuh tinggi dan kecemasan, naik sebesar 14%, demikian menurut mereka. Rawat inap orang berusia di atas 75 tahun meningkat sebesar 19%. Di seluruh kelompok usia, panggilan darurat terkait heatstroke dan dehidrasi melonjak masing-masing sebesar 480% dan 315%.
