ASIAWORLDVIEW – Harga aset kripto menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada Minggu (8/2/2026). Bitcoin (BTC) kembali melemah, turun 1,71% dalam 24 jam terakhir. Kini berada di level sekitar USD 69.392,55 atau setara Rp1,16 miliar, setelah sempat anjlok lebih dari 11% dalam sepekan.
Sebaliknya, Ethereum (ETH) justru bergerak di zona hijau dengan kenaikan harian 1,65%, meski secara mingguan masih mencatat penurunan lebih dari 14%. Pergerakan berlawanan ini mencerminkan sentimen pasar yang masih rapuh, di mana sebagian investor memilih masuk ke altcoin sementara tekanan jual masih membayangi Bitcoin.
Kondisi tersebut tak jauh berbeda dengan Jumat, 6 Gebruari 2026. Harga Bitcoin anjlok tajam sempat menyentuh level 60.000 dolar AS dipicu oleh kombinasi gelombang likuidasi posisi leverage dan meningkatnya tekanan jual dari investor institusional.
Menurut Vice President Indodax, Antony Kusuma, kondisi pelemahan yang terjadi saat ini menunjukkan betapa cepatnya reaksi pasar di tengah tekanan likuiditas. Hal ini mencerminkan bahwa investor merespons perubahan sentimen dengan segera, baik di pasar kripto maupun aset berisiko lainnya.
Baca Juga: Citi: Ketidakpastian Regulasi Kripto Tekan Prospek Coinbase
“Tekanan likuiditas membuat pergerakan harga menjadi lebih volatil, sehingga setiap perubahan kecil dalam permintaan atau arus modal dapat langsung berdampak signifikan,” ia mengatakan dalam keterangannya yang dikutip Asiaorldview.
Situasi ini menegaskan pentingnya kewaspadaan pelaku pasar dalam mengelola risiko. Hal itu karena dinamika yang terjadi bisa bergeser dengan sangat cepat sesuai kondisi global maupun domestik.
“Kondisi tersebut mencerminkan fase risk-off di pasar global, di mana investor mulai mengurangi kepemilikan pada aset berisiko di tengah pengetatan likuiditas dan rilis data ekonomi yang mengecewakan dari sejumlah negara,” ia menambahkan.
Terkait pergerakan selanjutnya, Antony menegaskan bahwa arah Bitcoin dalam beberapa waktu ke depan akan sangat bergantung pada stabilitas pasar global dan respons investor terhadap kondisi makro.
“Selama sentimen global belum stabil, pergerakan Bitcoin masih akan mudah berfluktuasi,” katanya.
Di tengah volatilitas yang masih tinggi, dia menilai pendekatan bertahap seperti dollar cost averaging (DCA) dapat menjadi salah satu cara bagi pelaku pasar untuk menyikapi kondisi saat ini.
“Dalam situasi pasar yang belum stabil, strategi pembelian bertahap bisa membantu mengurangi tekanan dari fluktuasi harga jangka pendek. Yang penting, tetap menyesuaikan dengan kemampuan dan profil risiko masing-masing,” ujar Antony.
