ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah signifikan, hari ini, Senin (8/6/2026) Ada di kisaran Rp18.107–Rp18.115 per dolar AS, turun sekitar 0,39–0,44% dibanding penutupan Jumat lalu. Pelemahan ini menandai tekanan berkelanjutan terhadap rupiah di tengah kuatnya dolar AS dan ketidakpastian global.
Pelemahan ini mencerminkan tekanan besar yang dihadapi rupiah akibat kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS menjadi pemicu utama, didorong oleh laporan Non-Farm Payrolls yang lebih baik dari perkiraan sehingga meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Kondisi ini membuat investor global kembali menempatkan dana mereka pada aset berbasis dolar, sementara ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk serangan militer di Iran Selatan. Hal ini menambah ketidakpastian pasar energi dan mendorong arus modal keluar dari negara berkembang.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp18.026, Dekati Rekor Terendah
Tidak hanya rupiah, mata uang lain seperti yen Jepang, euro, dan pound sterling juga melemah terhadap dolar AS. Kondisi ini menegaskan dominasi greenback di pasar global.
Di dalam negeri, intervensi Bank Indonesia melalui pasar spot dan DNDF memang dilakukan untuk menahan volatilitas, tetapi belum mampu membalikkan tren pelemahan. Penerimaan pajak yang tumbuh signifikan dalam APBN memberi sedikit harapan, namun krisis kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia masih membayangi.
Lonjakan PHK dan kenaikan biaya produksi akibat harga BBM industri nonsubsidi semakin menekan sentimen pasar. Dengan kurs yang sudah menembus Rp18.100, risiko bagi pelaku pasar domestik semakin besar, dan volatilitas tinggi membuat rentang proyeksi hari ini berada di Rp17.950–Rp18.250 per dolar AS. Jika sentimen global tidak membaik, pelemahan rupiah berpotensi berlanjut hingga penutupan perdagangan sore.
Bagi investor, kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra. Strategi yang bijak adalah mencermati kebijakan moneter The Fed, intervensi Bank Indonesia, serta perkembangan geopolitik global yang memengaruhi arus modal ke emerging markets. Rupiah yang terus tertekan menunjukkan bahwa stabilitas jangka pendek masih sangat bergantung pada faktor eksternal, sementara perbaikan fundamental domestik membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar mengembalikan kepercayaan pasar.

