Alasan Menkeu Purbaya Percaya Diri Pertumbuhan Ekonomi Capai 6%

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

ASIAWORLDVIEW – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 berada di kisaran 5,5 hingga 6 persen. Optimisme ini didasarkan pada momentum kuat yang sudah terbentuk sepanjang 2025 dan diyakini akan berlanjut di tahun 2026.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat tahun 2025 akan terus berlanjut hingga tahun 2026,” ungkapnya dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026, dikutip Asiaworldview, Sabtu (14/2/2026).

Pemerintah menyiapkan belanja negara sebesar Rp809 triliun untuk mendukung target tersebut, termasuk percepatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) senilai Rp62 triliun, pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi ASN/TNI/Polri sebesar Rp55 triliun, anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi bencana di Sumatera Rp6 triliun, serta paket stimulus Rp13 triliun.

Total injeksi langsung mencapai sekitar Rp136 triliun di luar belanja rutin, yang diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat, memperkuat konsumsi domestik, dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Purbaya menegaskan bahwa jika target ini tercapai, Indonesia akan berhasil keluar dari jebakan pertumbuhan ekonomi stagnan di angka 5 persen dan memasuki fase ekspansi yang lebih solid.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Berambisi Berantas Persekongkolan Pajak

Tambahan momentum berasal dari faktor musiman seperti libur dan cuti bersama Imlek serta Idul Fitri, serta kebijakan Work From Anywhere (WFA). Dengan konsumsi rumah tangga sebagai kontributor utama Produk Domestik Bruto (PDB), lanjut dia, injeksi sebesar ini berpotensi menghasilkan efek pengganda signifikan, terutama pada sektor perdagangan, transportasi, makanan-minuman, hingga Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Pada sisi penawaran dan investasi, akselerasi dilakukan melalui pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebanyak 30 ribu unit senilai Rp90 triliun dan pembangunan 190 ribu unit rumah komersial, rumah subsidi, maupun bantuan renovasi (BSPS/Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya) dengan total Rp20 triliun. Selain itu, terdapat groundbreaking proyek hilirisasi Danantara senilai 7 miliar dolar AS atau sekitar Rp110 triliun.

Total dorongan investasi langsung yang teridentifikasi mencapai sekitar Rp220 triliun. Investasi ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja dan mendorong sektor konstruksi serta industri bahan bangunan, tetapi juga memperkuat hilirisasi berbasis ekspor dan meningkatkan nilai tambah domestik.

“Jadi kita keluarkan semua belanjanya mungkin di triwulan pertama untuk memastikan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi masih akan berkelanjutan,” pungkasnya.