ASIAWORLDVIEW – GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) atau refluks lambung sering kali dianggap sepele, padahal banyak penderitanya yang harus rutin mengonsumsi obat untuk mengendalikan gejala. Kondisi ini terjadi ketika asam lambung naik ke esofagus dan menimbulkan rasa terbakar di dada, mual, atau gangguan pencernaan lain yang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Tanpa penanganan yang tepat, GERD berisiko menimbulkan komplikasi seperti peradangan kronis atau luka pada esofagus.
Penderita GERD biasanya mengonsumsi obat untuk mengurangi produksi asam lambung dan meredakan gejala seperti heartburn, regurgitasi, atau rasa terbakar di dada.
Melihat kebutuhan tersebut, Daewoong menghadirkan obat inovatif P-CAB ‘Fexuprazan’ untuk penderita GERD setelah mendapatkan persetujuan dari BPOM di Indonesia. Kehadiran Fexuprazan menandai langkah penting dalam terapi refluks lambung, karena obat ini bekerja dengan mekanisme berbeda dari pengobatan tradisional seperti PPI. P-CAB (Potassium-Competitive Acid Blocker) mampu menekan produksi asam lambung lebih cepat dan konsisten.
Baik In Hyun, Executive Director Indonesia Business Division Daewoong, menegaskan bahwa persetujuan Fexuprazan di Indonesia merupakan tonggak penting karena membuka akses terapi baru bagi pasien GERD.
“Persetujuan di Indonesia ini menjadi tonggak penting karena memungkinkan kami menghadirkan opsi terapi baru bagi pasien, ia mengatakan, dikutip dari siaran pers, Jumat (17/4/2026).
Baca Juga: Ramai di Media Sosial, Istilah GERD Bisa Memengaruhi Jantung Dinilai Menyesatkan
Ia juga mengapresiasi komitmen BPOM dalam memperluas akses terhadap obat inovatif, sekaligus menyoroti proses evaluasi yang efisien sebagai bukti kapabilitas BPOM sebagai otoritas kelas dunia yang telah diakui sebagai WHO Listed Authority (WLA). Hal ini mencerminkan upaya besar dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
“Kami juga mengapresiasi komitmen BPOM dalam memperluas akses terhadap obat inovatif,” Kami juga mengapresiasi komitmen BPOM dalam memperluas akses terhadap obat inovatif,” jelasnya.
Fexuprazan memiliki ketergantungan rendah terhadap enzim metabolisme hati CYP2C19, sehingga risiko interaksi dengan obat lain, terutama obat jantung, dapat diminimalkan dan efektivitasnya lebih seragam antar pasien. Dengan cara konsumsi cukup satu kali sehari tanpa bergantung pada waktu makan, Fexuprazan diharapkan meningkatkan kenyamanan serta kualitas hidup penderita GERD.
“Daewoong akan terus memperluas penelitian klinis dan menjalin pertukaran akademik bersama tenaga medis Indonesia, dengan tujuan menjadi mitra kesehatan yang berkontribusi nyata bagi masyarakat,” ia mengatakan.
Obat ini diharapkan memberikan kontrol gejala yang lebih efektif bagi pasien. Persetujuan BPOM juga menunjukkan bahwa obat ini telah melalui evaluasi keamanan dan efektivitas, membuka akses baru bagi penderita GERD di Indonesia terhadap terapi yang lebih modern dan inovatif.
