ASIAWORLDVIEW – Moscow Fashion Week edisi ketujuh yang telah berlangsung di Moskow menunjukkan bagaimana sebuah ajang mode internasional dapat menjadi pintu masuk bagi brand independen untuk menjangkau pasar baru. Hal ini menjadi sebuah dinamika pergeseran lanskap fashion global ke arah multipolar.
Selama enam hari penyelenggaraan, acara ini menampilkan lebih dari 350 desainer dari berbagai belahan dunia, dengan kehadiran desainer dari Asia cukup menonjol—termasuk dari China, India, Sri Lanka, dan Kazakhstan. Apalagi seiring sejumlah brand dari Rusia, Eropa, Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Latin yang turut memperkenalkan koleksi mereka.
Bagi brand yang sedang berkembang, ajang ini membuka kesempatan selama enam hari untuk berinteraksi langsung dengan pembeli, media, dan profesional industri mode dari berbagai negara, sebuah akses yang biasanya hanya dimiliki rumah mode mapan dengan jaringan global.
India diwakili oleh KGL, brand milik desainer Kanika Goyal yang masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30; karya KGL dikenakan sejumlah selebritas termasuk Priyanka Chopra Jonas, Deepika Padukone, dan M.I.A., dan brand ini pernah berkolaborasi dengan Adidas Originals.
Dalam koleksi Arc Echo, Goyal menampilkan jaket dan celana yang dibuat dari potongan-potongan denim tidak terpakai serta busana rajut bermotif mozaik. Ini mencerminkan etos keberlanjutan yang tumbuh dari kesadaran akan keterbatasan sumber daya, bukan sekadar tren global. Goyal memandang partisipasinya sebagai bagian dari perkembangan brand independen yang tengah bertumbuh.
“Bagi sebuah brand muda, eksposur seperti ini dapat membuka peluang kolaborasi yang bermakna, akses ke pasar baru, serta pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana karya mereka diterima di berbagai budaya. Platform seperti Moscow Fashion Week membantu desainer membangun pengakuan di tingkat internasional tanpa kehilangan karakter dan identitas lokal yang sejak awal menjadi kekuatan karya mereka,” ia mengatakan.
Baca Juga: LEPAS di Jakarta Fashion Week 2027: Saat Desain Otomotif Bertemu Fashion Urban

Bagi Indonesia, pengalaman brand Asia dan Rusia tersebut sangat relevan mengingat kekayaan tradisi kerajinan—termasuk batik yang juga tampil di panggung Moskow lewat koleksi desainer Sri Lanka—serta sektor manufaktur berorientasi ekspor yang terus mencari cara baru menjangkau pasar internasional.
Bersamaan dengan Moscow Fashion Week, digelar pula BRICS+ Fashion Summit pada 28–30 September 2026 yang menghadirkan sejumlah pakar industri, termasuk Rizal Tanzil Rakhman, Government Relation and Sustainability Executive di PT Pan Brothers Tbk, Indonesia; dengan Indonesia yang menjadi anggota penuh BRICS sejak Januari 2025.
Forum seperti ini semakin relevan sebagai jalur kolaborasi bagi industri mode nasional. Menurut Rizal, salah satu tantangan utama industri mode Indonesia adalah mengolah kekayaan dan keunikan sumber daya lokal menjadi produk serta cerita brand yang mampu menarik perhatian konsumen internasional—dan dalam proses ini, ajang mode global seperti Moscow Fashion Week dapat memainkan peran penting.
“Berpartisipasi dalam Moscow Fashion Week dapat menjadi platform penting untuk membawa karya desainer Indonesia ke pasar internasional. Lebih dari sekadar tampil di panggung peragaan, ajang ini dapat membantu desainer Indonesia membangun visibilitas di kalangan pembeli internasional, media, distributor, komunitas kreatif, dan calon mitra bisnis,” ujarnya.
Moscow Fashion Week digelar dua kali setahun, dan pada edisi-edisi sebelumnya pendaftaran bagi desainer serta brand untuk edisi musim semi dibuka menjelang akhir tahun melalui situs resmi penyelenggara—bagi desainer Indonesia yang tertarik, periode ini dapat dimanfaatkan untuk memetakan koleksi, kesiapan produksi, dan strategi masuk pasar sebelum pendaftaran edisi berikutnya dibuka.
Momen ini adalah kesempatan bagi Indonesia untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam peta mode global, melainkan ikut menulis babak baru di mana batik, tenun, dan kerajinan Nusantara berdiri sejajar dengan sutra China dan renda Sri Lanka di panggung dunia—bukan sebagai eksotisme, melainkan sebagai bahasa estetika yang setara dan berdaulat.
Tak hanya Indonesia, Limak by Kamil, brand milik desainer asal Sri Lanka Kamil Hewavitharana, juga menarik perhatian dengan koleksi yang mengangkat batik—teknik yang juga akrab bagi masyarakat Indonesia—dan memadukannya dengan motif tradisional yang dirancang khusus untuk koleksi tersebut bersama material sutra, renda, organza, dan jacquard.
Hasilnya adalah siluet modern dengan potongan detail dan sentuhan akhir yang dikerjakan secara manual. Ini adalah contoh bagaimana warisan tekstil Asia dapat “berbicara” dalam dialek mode kontemporer tanpa kehilangan jati diri, sekaligus mengingatkan bahwa batik bukanlah milik satu bangsa saja, melainkan bagian dari ekosistem budaya maritim yang saling terhubung.
Sementara, Momiwei, brand asal China yang mendapat dukungan China Fashion Week, menjalani debutnya di panggung mode internasional dengan koleksi Light Sequence. Brand ini mengangkat cahaya sebagai simbol kebangkitan dan kekuatan batin perempuan modern—memadukan beludru dan asetat dengan Xiangyunsha, kain sutra tradisional China yang dibuat secara manual dan dikenal karena teksturnya yang alami.
Kehadiran Momiwei di Moskow, setelah memiliki pelanggan seperti Fan Bingbing dan Gillian Chung, menunjukkan bagaimana China tidak hanya mengekspor produk manufaktur tetapi juga mulai mengekspor sistem estetika dan narasi kulturalnya melalui mode. Pertukaran ini berjalan dua arah: desainer Rusia yang tampil di Moscow Fashion Week juga memiliki rekam jejak di pasar Asia. Ianis Chamalidy, yang pernah berpartisipasi dalam ajang showroom di China Fashion Week pada 2024.
Ia memperkenalkan koleksi Via Lucis di Moskow musim ini dengan menggunakan potongan film sebagai benang tekstil untuk membuat aksesori penutup kepala dan tas; pada 2025, brand Za_Za tampil di Lakmé Fashion Week di India, dan musim ini memperkenalkan koleksi Life Cycles di Moskow dengan garis-garis mengalir, bentuk geometris, dan permainan asimetri yang menggambarkan transisi fase kehidupan.
Brand Rusia lainnya, Ónoma, yang dikenal melalui gaun berbahan jaring ringan dengan aplikasi dekoratif dan sulaman tali, memperkenalkan koleksi Incognito yang mengangkat kisah perempuan mencari jati diri di tengah hiruk-pikuk dunia digital melalui permainan lapisan busana transparan—sebuah tema yang sangat Asia dalam resonansinya, karena menyentuh persoalan identitas, visibilitas, dan tekanan sosial di era digital.
Bagi berbagai brand Rusia, peragaan di Moskow menjadi sarana memperluas jangkauan audiens sekaligus mendapatkan tanggapan langsung terhadap koleksi terbaru desainer Alena Musaeva menampilkan kemeja, rok renda, dan gaun musim panas yang terinspirasi cerita rakyat Rusia dan menyatakan bahwa partisipasinya membantu memperluas basis pelanggan.
Sementara Edder memperkenalkan lini busana resor pertamanya dengan setelan longgar dan kemeja kasual. Ia menyebut peragaan tersebut sebagai wadah menguji ide dan koleksi baru serta melihat respons komunitas profesional industri mode.
