Genius Future Summit 2026 Jadikan Nuanu Creative City Panggung Pertemuan Seni, AI, dan Masa Depan

ASIAWORLDVIEW – Di pesisir Tabanan, Bali, di mana garis pantai bertemu dengan hamparan hijau seluas 44 hektare, Nuanu Creative City seolah menjadi kanvas hidup tempat seni, teknologi, dan gagasan besar saling bertemu. Genius Future Summit 2026 atau edisi kedua.

Kegiatan ini mempertemukan ilmuwan, pengusaha, investor, dan praktisi pendidikan dari lebih dari 15 negara dalam forum dua hari. Membahas perkembangan kecerdasan buatan (AI), robotika, teknologi untuk memperpanjang usia manusia (longevity), pendidikan, dan kewirausahaan—serta bagaimana perkembangan tersebut dapat memengaruhi cara manusia hidup, belajar, dan bekerja di masa depan.

“Mempertemukan orang-orang dengan beragam pemikiran dan keahlian, baik pembicara maupun peserta, merupakan salah satu tujuan utama Nuanu dibangun. Kami ingin menciptakan ruang bagi orang-orang untuk saling bertukar gagasan dan berdiskusi. Kami terus berupaya untuk belajar, mempertanyakan berbagai hal, dan memahami dunia dengan lebih baik, ujar Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City, dikutip Asia World View, Jumat (6/11/2026).

Forum ini menghadirkan sejumlah pembicara internasional, di antaranya fisikawan teoretis sekaligus penulis buku terlaris Dr. Michio Kaku, pendiri XPRIZE Peter Diamandis, pengusaha Indonesia Merry Riana, serta Pendiri dan CEO Genius Group Roger James Hamilton. Seperti sebuah pameran seni yang tidak berhenti di dinding galeri, acara ini juga menjadi ruang bagi para peserta untuk bertukar gagasan, membangun jaringan, dan membahas peluang baru di berbagai sektor—sebuah komposisi kolektif yang menyatukan disiplin ilmu berbeda dalam satu panggung.

“Melalui acara seperti ini, kami dapat menjalani proses tersebut bersama orang-orang yang datang dan terlibat di dalamnya. Ini menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi kami,” ia menambahkan.

Baca Juga: Kunjungan Wisatawan Asing di Bali Melonjak, Belanja dan Lama Tinggal Meningkat

Seluruh rangkaian diskusi berlangsung di Labyrinth Convention Center dan Labyrinth Dome, Nuanu Creative City—dua ruang yang namanya sendiri sudah seperti undangan untuk tersesat dalam labirin gagasan, tempat setiap sudut dirancang untuk memancing pertanyaan rather than sekadar memberikan jawaban.

Selain menjadi forum diskusi, Genius Future Summit juga memperkenalkan berbagai perkembangan proyek dan inisiatif yang tengah berjalan di Nuanu. Dalam sesi Nuanu Forum, Angela Stead, Direktur Genius Group; Auditya Sari, Project Manager of Nuanu Social Fund; serta Ni Komang Sri Junisabtika, Venue Manager Magic Garden di Nuanu Creative City, memaparkan perkembangan kawasan, program pemberdayaan masyarakat, serta berbagai kegiatan yang dijalankan melalui proyek-proyek di dalam ekosistem Nuanu—sebuah presentasi yang menunjukkan bahwa di balik keindahan estetika kawasan, terdapat lapisan kerja sosial dan budaya yang menjadi fondasinya.

Pendidikan menjadi salah satu fokus pembahasan, terutama terkait peran teknologi dan kewirausahaan dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja dan kehidupan di masa depan; topik tersebut berkaitan dengan kolaborasi antara Nuanu Creative City dan Genius Group (NYSE American: GNS), yang mencakup pengembangan Genius City sebagai kawasan pendidikan dan kewirausahaan di Nuanu, serta penerapan model pendidikan Genius School dan program Genius Apprentice di ProEd Global School. Kerja sama yang diselesaikan pada November 2025 dengan valuasi gabungan sebesar US$14 juta ini menggabungkan program pendidikan dan kewirausahaan Genius Group dengan ekosistem Nuanu yang mencakup berbagai bidang di Bali—sebuah perkawinan antara modal intelektual global dan lanskap budaya lokal yang, jika berhasil, dapat menjadi model bagi kawasan kreatif lain di Asia.

Pada pagi hari terakhir penyelenggaraan summit, para pembicara dan tamu VIP mengunjungi sejumlah lokasi di Nuanu, termasuk kampus ProEd di Nuanu dan Luna Beach Club—sebuah penutup yang sifatnya sinematik, membawa peserta dari ruang diskusi tertutup ke ruang terbuka yang menghadap cakrawala.

“Dunia berubah begitu cepat, terutama dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi baru. Namun, sebagian besar sistem pendidikan kita masih mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi dunia yang sudah tidak lagi relevan. Saya percaya pendidikan seharusnya memberikan kepercayaan diri, keterampilan, dan kesempatan bagi setiap individu untuk membentuk masa depan mereka sendiri. Itulah yang sedang kami bangun melalui Genius City, sebuah tempat di mana proses belajar berlangsung berdampingan dengan para pengusaha, pelaku bisnis, dan teknologi, sehingga setiap orang memiliki kesempatan untuk mewujudkan gagasan mereka menjadi sesuatu yang nyata,” ujar Roger James Hamilton.

Dr. Michio Kaku menutup rangkaian acara melalui sesi diskusi bersama Roger James Hamilton, sementara Peter Diamandis menyampaikan presentasi utama mengenai perkembangan teknologi yang semakin cepat dan potensi perubahan yang ditimbulkannya; Merry Riana membagikan pandangannya mengenai masa depan pendidikan di Indonesia, dan sesi lainnya membahas perkembangan robotika, sektor properti, serta kondisi dan tantangan menjalankan bisnis di Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *