ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (5/11/2026), menunjukkan penguatan yang cukup tajam pada pembukaan pagi, meskipun masih bertahan di level Rp18.000-an. Berdasarkan data, rupiah melesat naik sekitar 80 hingga 98 poin atau setara 0,44% hingga 0,54%, membawa kurs ke level Rp18.070 hingga Rp18.088 per dolar AS.
Posisi ini merupakan pembalikan dari penutupan hari sebelumnya, 4 November 2026, di mana rupiah ditutup melemah tipis ke level Rp18.168 per dolar AS. Bahkan, mengutip data Reuters, penguatan rupiah pagi ini tercatat sebagai yang terbaik di antara mata uang Asia, mencerminkan sentimen positif yang cukup kuat di pasar valas domestik.
Faktor eksternal menjadi pendorong dominan penguatan rupiah hari ini. Indeks Dolar AS (DXY) terpantau melemah ke level 101,41, turun sekitar 0,44% dibandingkan hari sebelumnya, seiring dengan hasil pemilu sela (midterm election) di Amerika Serikat yang mengindikasikan kemenangan bagi Partai Demokrat . Kemenangan ini meningkatkan ekspektasi pasar terhadap pembatasan ekspansi fiskal pemerintahan Donald Trump, yang pada gilirannya menurunkan kekhawatiran akan lonjakan utang dan inflasi AS . Selain itu, harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam. Brent merosot lebih dari 8% ke level di bawah US$95 per barel.
Baca Juga: Menko Airlangga Sebut Pelemahan IHSG Wajar di Tengah Sentimen Negatif MSCI
Sementara WTI turun sekitar 8,3% ke US$88,12 per barel. Bagi Indonesia sebagai net importir minyak, penurunan ini secara langsung mengurangi kebutuhan valuta asing untuk impor energi, sehingga meredakan tekanan terhadap rupiah.
Meskipun eksternal mendukung, penguatan rupiah masih tertahan oleh kehati-hatian investor domestik. Pasar menantikan rilis data Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal III 2026 yang dijadwalkan pada hari yang sama. Sentimen domestik juga sempat dibebani oleh revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 oleh pemerintah menjadi 5,4%–5,5%, dari sebelumnya 5,6%–6%, serta kekhawatiran akan kenaikan biaya impor.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp18.080–Rp18.200, dengan level penopang di Rp18.100 dan Rp18.050, serta batas tekanan di Rp18.200 dan Rp18.250. Sementara itu, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan rentang Rp18.050–Rp18.200 dengan peluang penguatan yang masih terbuka, terutama jika sentimen risk-on di pasar saham domestik berlanjut.
