Harga Emas Naik 2,5% dalam Sehari, Investor Berburu Aset Safe Haven

Emas batang.

ASIAWORLDVIEW – Harga emas spot menguat tajam pada Rabu (4/11/2026), dengan kenaikan intraday sekitar 2,5% hingga mencapai kisaran US$4.030 per ons. Pergerakan ini menjadi kenaikan intraday terbesar sejak Agustus dan memperpanjang pemulihan harga sekitar 3,9% dari titik terendah tahun ini, yakni US$3.870 per ons pada 30 Oktober.

Meski rebound tersebut memperlihatkan pulihnya minat terhadap emas, kinerjanya secara lebih luas masih tertekan: harga tercatat turun sekitar 6,9% sejak awal tahun dan masih berada sekitar 28% di bawah rekor tertinggi US$5.595 per ons yang dicapai pada 28 Januari 2026.

Penguatan emas berlangsung bersamaan dengan pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, dua faktor yang lazim mendukung permintaan terhadap logam mulia. Pasar merespons kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS yang, menurut laporan yang tersedia, memberi partai tersebut kendali atas Kongres.

Investor menilai perubahan komposisi politik itu dapat membatasi ruang gerak agenda fiskal Presiden Donald Trump, termasuk rencana yang berpotensi meningkatkan belanja pemerintah dan kebutuhan penerbitan utang. Ekspektasi pembatasan terhadap penerbitan utang baru turut memengaruhi pasar obligasi, meskipun dampak akhirnya akan bergantung pada kebijakan yang benar-benar dijalankan dan perkembangan pembahasan anggaran.

Baca Juga: JPMorgan Proyeksikan Bitcoin Raup Imbal Hasil 10% per Tahun dalam Satu Dekade, Lampaui Saham AS dan Emas

Di pasar obligasi, yield Treasury AS tenor 10 tahun dilaporkan turun tajam pada hari tersebut. Angka yang disebut dalam materi awal mencapai penurunan hingga 7 basis poin ke 4,89%, sementara laporan pasar lain menempatkannya di sekitar 4,92%; perbedaan kecil ini dapat mencerminkan waktu pengamatan atau sumber data yang berbeda.

Penurunan yield mengurangi daya tarik relatif aset berbunga dibandingkan emas, yang tidak memberikan kupon atau bunga. Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) merosot ke sekitar 101,4—level terendah dalam sebulan menurut laporan pasar. Karena emas umumnya dihargakan dalam dolar AS, pelemahan dolar dapat membuat logam mulia tersebut lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain dan berpotensi menopang permintaan global.

Sentimen terhadap dolar juga dipengaruhi kekhawatiran investor bahwa pengetatan regulasi kecerdasan buatan (AI) dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi AS. Perhatian pasar tertuju pada besarnya peran investasi dan belanja terkait AI dalam mendukung aktivitas ekonomi, sehingga perubahan regulasi dipandang berpotensi memengaruhi prospek perusahaan, investasi, dan permintaan terhadap aset berdenominasi dolar.

Namun, hubungan antara regulasi AI dan pelemahan dolar bukanlah satu-satunya penjelasan atas pergerakan harian; perubahan ekspektasi suku bunga, sentimen risiko, dan respons pasar obligasi juga dapat berkontribusi. Karena itu, pergerakan emas pada 4 November sebaiknya dipahami sebagai hasil gabungan sejumlah faktor makroekonomi dan politik.

Sebelum rebound ini, harga emas turun hampir 7% sepanjang Oktober 2026 dan sempat jatuh di bawah US$4.000 per ons pada akhir bulan. Tekanan tersebut dikaitkan dengan meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan atau menaikkan suku bunga, di tengah kekhawatiran inflasi AS kembali menguat dan harga minyak Brent berada di sekitar US$117 per barel.

Energi yang mahal dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi, sehingga berpotensi memperbesar tekanan inflasi; jika inflasi bertahan tinggi, bank sentral mungkin memiliki ruang lebih sempit untuk menurunkan suku bunga. Prospek suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi tantangan bagi emas karena meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *