BI Hadapi Dilema Suku Bunga, Rupiah Bergerak Datar Dekati Rp18.000

Uang rupiah di dekat tumpukan Dolar AS.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak datar dan bertahan di bawah level psikologis Rp18.000 pada Rabu (21/10/2026). Namun bayang-bayang tekanan dari pasar obligasi dan ketidakpastian global masih membayangi.

Rupiah dibuka stagnan di level Rp17.992 per dolar AS, sama dengan posisi penutupan hari sebelumnya, menurut data yang dihimpun dari berbagai sumber. Sumber lain mencatat pembukaan yang sedikit bervariasi, dengan rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.980 hingga Rp17.991 pada awal sesi, mencerminkan likuiditas yang tipis dan pergerakan yang belum menemukan arah yang jelas. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari sebelumnya, Selasa (20/10), tercatat menguat ke level Rp18.006 per dolar AS, turun Rp44 dari posisi Rp18.050, mengonfirmasi bahwa rupiah sempat mencoba keluar dari zona tekanan berat.

Fokus utama pasar pada hari ini tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada hari yang sama. Bank sentral dihadapkan pada dilema kebijakan yang tidak mudah: di satu sisi, tekanan terhadap rupiah dan gejolak pasar saham menuntut respons berupa kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas dan mencegah arus modal keluar; di sisi lain, pengetatan moneter lebih lanjut berisiko menekan permintaan domestik dan memperlambat pertumbuhan ekonomi yang sudah melambat dari 5,61 persen pada kuartal I menjadi 5,29 persen pada kuartal II 2026.

Baca Juga: OJK Jaga Stabilitas Keuangan di Tengah Tantangan Ekonomi Global

Survei Reuters terhadap 29 analis menunjukkan mayoritas tipis, yakni 15 analis, memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen, sementara 13 analis memproyeksikan kenaikan 25 basis poin dan satu analis memperkirakan kenaikan 50 basis poin . Ekonom dari LPEM UI juga memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga, sambil tetap bersiap merespons jika tekanan terhadap rupiah semakin meningkat. Namun, ada pula yang melihat kenaikan ke level 6 persen sebagai langkah yang lebih proporsional untuk menjaga stabilitas tanpa mencekik pertumbuhan.

Tekanan terhadap rupiah saat ini tidak sepenuhnya berasal dari faktor eksternal. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyoroti bahwa pelemahan rupiah justru terjadi ketika dolar AS dan imbal hasil US Treasury sedang turun, sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) meningkat di hampir seluruh tenor. Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan bahwa pasar sedang menaikkan premi risiko khusus Indonesia, dengan tekanan yang terlihat di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) sebelum perdagangan domestik dibuka, menandakan dorongan pelemahan datang dari pasar offshore.

Sentimen negatif terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi untuk menurunkan status pasar saham Indonesia menjadi standalone market masih menjadi bayang-bayang utama. Meskipun tekanan di pasar saham bukan sumber utama pelemahan rupiah, memburuknya sentimen dapat mengubah perilaku pelaku pasar, mulai dari eksportir yang menahan dolar AS hingga korporasi yang mempercepat pembelian valuta asing. Risiko akan semakin besar apabila tekanan tersebut diikuti oleh aksi jual investor asing di pasar obligasi pemerintah, mengingat kepemilikan asing di SBN mencapai Rp917,71 triliun.

Dari sisi eksternal, beberapa faktor turut mempengaruhi pergerakan rupiah. Harga minyak mentah Brent yang bertahan di atas USD100 per barel, bahkan sempat mencapai sekitar USD111, menjadi beban bagi neraca fiskal dan inflasi domestik . Imbal hasil obligasi US Treasury tenor 10 tahun masih berada di kisaran 5,1 persen, membuat aset berdenominasi dolar AS tetap kompetitif dan membatasi ruang penguatan rupiah.

Indeks Dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis 0,10 persen ke posisi 101,803, menambah tekanan terhadap mata uang emerging market . Selain itu, eskalasi geopolitik di Timur Tengah setelah serangan Houthi terhadap kamp pelatihan di Yaman meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi, sementara pasar juga mencermati perkembangan perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump terkait sanksi Rusia. Dari dalam negeri, inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan, mendekati batas atas sasaran inflasi BI sebesar 3,5 persen, sehingga pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor dan memperbesar risiko tekanan harga .

Analis memberikan proyeksi yang bervariasi untuk pergerakan rupiah pada hari ini. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah pada rentang Rp17.990 hingga Rp18.040 per dolar AS. Dalam skenario ekstrem, tekanan yang merembet ke pasar SBN dan disertai tindakan lembaga pemeringkat dapat mendorong rupiah menuju Rp18.800 hingga Rp19.000 per dolar AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *