ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menunjukkan volatilitas tinggi pada Rabu (21/10/2026), dengan pergerakan yang berbalik arah secara tajam. Kondisi ini mencerminkan kerapuhan sentimen pasar setelah rebound besar sehari sebelumnya.
IHSG dibuka menguat 31,96 poin atau 0,61 persen ke level 5.310,85, dengan indeks LQ45 naik 4,29 poin atau 0,81 persen ke posisi 534,64 . Penguatan awal ini sempat berlanjut hingga menyentuh level tertinggi harian di 5.326,96, memberi harapan bahwa momentum positif dari rebound 5,65 persen pada Selasa (20/10) masih berlanjut.
Namun, euforia itu tidak bertahan lama. Tak lama setelah pembukaan, IHSG berbalik melemah tajam dan terperosok ke zona merah, bahkan sempat menyentuh level terendah di 5.188 dalam satu jam pertama perdagangan . Pada pukul 09.15 WIB, IHSG tercatat melemah 30,032 poin atau 0,57 persen ke level 5.248,856, dan tekanan jual terus berlanjut hingga pukul 10.17 WIB dengan koreksi 1,10 persen ke level 5.220,70.
Pergerakan fluktuatif ini tidak terlepas dari posisi pasar yang sedang menanti keputusan penting dari Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada hari yang sama. Konsensus pasar memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 6,00 persen, meskipun survei Bloomberg terhadap 34 ekonom menunjukkan ekspektasi bahwa BI akan mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen.
Baca Juga: Analis: Buyback dan Kebijakan BEI Dorong Rebound IHSG
Ketidakpastian ini menciptakan dilema bagi investor: di satu sisi, kenaikan suku bunga berpotensi menopang stabilitas rupiah yang masih tertekan di sekitar Rp18.000 per dolar AS; di sisi lain, biaya pendanaan yang lebih tinggi dapat menekan profitabilitas emiten dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Analis Phintraco Sekuritas menegaskan bahwa keputusan BI akan menjadi faktor penting bagi pergerakan rupiah, pasar obligasi, dan IHSG, dengan pasar mencermati sinyal mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Sentimen lain yang membebani pasar adalah masih berlanjutnya aksi jual bersih investor asing. Pada perdagangan Selasa, meskipun IHSG melesat 5,65 persen, investor asing masih mencatatkan net foreign sell sebesar Rp2,19 triliun, dengan BBCA menjadi saham yang paling banyak dijual asing (Rp966 miliar), disusul ISAT, MDKA, dan ICBP . Hal ini menunjukkan bahwa rebound yang terjadi lebih didorong oleh aksi beli domestik dan faktor teknis, bukan oleh kembalinya kepercayaan investor asing. Di sisi lain, kebijakan BEI yang mengeluarkan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari perhitungan IHSG serta rencana perluasan pengungkapan afiliasi pemegang saham masih menjadi katalis positif yang membantu menopang psikologis pasar.

