ASIAWORLDVIEW – Fibrilasi atrium (FA), gangguan irama jantung yang ditandai oleh detak jantung yang cepat dan tidak teratur. Kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda. Kondisi ini sebelumnya lebih umum terjadi pada lansia, namun perubahan gaya hidup menjadi pemicu penyakit ini terjadi di kalangan kelompok usia muda.
Prof. Phiip Wong En Hou, spesialis jantung dari Singapura, dalam acara PRIMAYA CARDIOVASCULAR CONFERENCE 2025 “Beat for Life, Love Your Heart, Sabtu (20/9/2025), menjelaskan, gejala seperti jantung berdebar, kelelahan, sesak napas, dan pusing. Kondisi tersebut meningkatkan risiko stroke dan gagal jantung jika tidak ditangani.
“Gaya hidup tak sehat menjadi penyabab fibrilasi atrium di kalangan usia muda. Selain itu, stres kronis, konsumsi alkohol, merokok, dan paparan gadget yang berlebihan berkontribusi terhadap peningkatan kasusnya,” ia mengatakan.
Baca Juga: Tomat untuk Jantung Sehat: Satu Buah, Seribu Manfaat
Diagnosis dini sangat penting, karena banyak penderita muda tidak menyadari bahwa gejala ringan seperti palpitasi atau kelelahan bisa menjadi tanda awal gangguan irama jantung. Dengan meningkatnya kesadaran dan akses terhadap pemeriksaan kesehatan, tren ini menjadi perhatian serius di dunia medis, mendorong perlunya edukasi dan pencegahan sejak usia muda.
“Screening untuk penyakit ini merupakan langkah penting dalam deteksi dini gangguan irama jantung. Proses biasanya dilakukan melalui pemeriksaan denyut nadi secara manual atau menggunakan perangkat elektrokardiogram (EKG) untuk mendeteksi irama jantung yang tidak teratur,” jelasnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi wearable seperti smartwatch dan fitness tracker yang dilengkapi sensor EKG atau PPG (photoplethysmography) telah mempermudah identifikasi FA secara pasif, bahkan sebelum gejala muncul. Skrining ini sangat dianjurkan bagi individu dengan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, obesitas, riwayat penyakit jantung, atau usia di atas 65 tahun.
“Deteksi dini melalui skrining memungkinkan intervensi lebih cepat dan pengelolaan yang lebih efektif, sehingga dapat mencegah komplikasi serius dan meningkatkan kualitas hidup pasien,” ia menambahkan.
