ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pergerakan yang penuh dinamika dan berakhir di zona merah pada sesi pertama, Rabu (7/10/2026), meskipun sempat dibuka dengan optimisme. IHSG dibuka menguat 17,49 poin atau 0,28 persen ke posisi 6.210,42 pada pukul 09.00 WIB, melanjutkan tren positif tiga hari sebelumnya.
Penguatan awal ini ditopang oleh sebagian besar indeks sektoral seperti energi, barang baku, keuangan, barang konsumen non-primer, teknologi, serta properti dan real estat, dengan total volume perdagangan saham mencapai 5,38 miliar dan nilai transaksi Rp 776,33 miliar. Namun, momentum positif tersebut tidak bertahan lama. Memasuki pukul 09.27 WIB, IHSG berbalik melemah 22,11 poin atau 0,36 persen ke level 6.170,82, dan tekanan jual semakin mendominasi seiring berjalannya sesi pertama.
Hingga penutupan sesi I pada pukul 12.00 WIB, IHSG tercatat terkoreksi 34,14 poin atau 0,55 persen ke level 6.158,78. Dari 791 saham yang diperdagangkan, sebanyak 345 saham turun, 261 saham naik, dan 181 saham stagnan. Sepuluh dari sebelas sektor di bursa parkir di zona merah, dengan sektor energi menjadi pemberat terbesar setelah turun 1,38 persen secara sektoral, terutama tertekan oleh anjloknya saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang merosot 6,32 persen ke level Rp12.600, disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun 2,58 persen dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) jeblok 3,7 persen.
Baca Juga: Menteri Rosan Roeslani: KITAS Terbit 6 Hari, Dorong Kepastian Investasi
Sektor industrial juga melemah 1,33 persen, dengan saham PT United Tractors Tbk (UNTR) turun 2,98 persen ke level Rp25.225 dan PT Astra International Tbk (ASII) terkoreksi 0,83 persen ke Rp4.780. Sektor properti dan real estat turun 0,92 persen, infrastruktur 0,91 persen, barang baku 0,79 persen, kesehatan 0,65 persen, transportasi 0,42 persen, dan barang konsumer non-primer 0,40 persen, sementara hanya sektor keuangan yang mampu bertahan di zona hijau. Total nilai transaksi sepanjang sesi pertama mencapai Rp31,67 triliun dengan kapitalisasi pasar tercatat Rp10.843 triliun.
Tekanan jual yang signifikan datang dari investor asing yang membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp663,34 miliar hingga jeda makan siang. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling banyak dijual asing dengan nilai mencapai Rp132,14 miliar, disusul PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) senilai Rp96,8 miliar, serta PT Darma Henwa Tbk (DEWA) senilai Rp25,36 miliar. Meskipun demikian, saham BBCA justru menjadi yang paling banyak ditransaksikan hingga siang hari dengan nilai Rp406,77 miliar, diikuti GOTO dengan Rp204,59 miliar dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) senilai Rp195,30 miliar. Di jajaran top losers LQ45, GOTO memimpin dengan penurunan 3,23 persen ke Rp30 per saham, disusul UNTR turun 2,98 persen ke Rp25.225 dan PT XL SMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) turun 2,51 persen ke Rp2.330. Sementara itu, top gainers LQ45 diisi oleh PT Indika Energy Tbk (INDY) yang naik 1,85 persen ke Rp2.760, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik 1,75 persen ke Rp2.320, dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) naik 1,09 persen ke Rp6.925.
Dari sisi sentimen eksternal, pergerakan IHSG pada hari ini dipengaruhi oleh beberapa faktor positif yang sebenarnya berpotensi mendorong penguatan lebih lanjut. Penurunan harga minyak mentah dunia, dengan Brent kembali turun di bawah US$100 per barel, menjadi salah satu sentimen positif karena dapat meredakan tekanan inflasi sekaligus mengurangi risiko pelebaran defisit APBN. Penguatan rupiah terhadap dolar AS juga turut menjadi katalis positif, meskipun pada awal perdagangan rupiah sempat melemah ke level Rp17.892 per dolar AS.

