ASIAWORLDVIEW – Indonesia semakin menyadari bahwa kekayaan alam tidak cukup hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah. Nilai ekonomi yang jauh lebih besar justru lahir ketika sumber daya tersebut diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi, memiliki identitas merek yang kuat, serta mampu menembus pasar global.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa Indonesia memiliki keunggulan yang sulit ditandingi negara lain karena menguasai sekitar 85 persen pasokan rotan mentah dunia. Keunggulan komparatif tersebut dinilai harus menjadi fondasi untuk membangun industri pengolahan yang lebih kuat, sehingga Indonesia tidak lagi hanya dikenal sebagai pemasok bahan baku, melainkan sebagai pusat produksi furnitur dan kerajinan rotan berkualitas tinggi yang mampu bersaing di pasar internasional.
“Industri furnitur dan kerajinan memiliki karakteristik yang menjadikannya sektor strategis bagi perekonomian nasional. Industri ini bertumpu pada sumber daya lokal, melibatkan jutaan tenaga kerja, serta menjadi ruang tumbuh bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta para perajin di berbagai daerah,” jelas Menperin Sarmuji, Asia World View mengutip dari Antara.
Baca Juga: Gantikan Agus Gumiwang, Pelantikan Muhammad Sarmuji Jadi Babak Baru Industri Manufaktur Indonesia
Dorongan tersebut sejalan dengan pandangan pelaku industri yang melihat rotan bukan sekadar komoditas ekspor, tetapi aset strategis nasional. Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menilai keunggulan bahan baku harus diterjemahkan menjadi kekuatan manufaktur, inovasi desain, pengembangan merek, hingga penguasaan pasar global.
Menurutnya, tanpa kebijakan yang terintegrasi dan perlindungan yang memadai, Indonesia berisiko kehilangan peluang besar untuk menikmati manfaat ekonomi dari rantai nilai industri rotan.
“Karena itu, dibutuhkan langkah nyata yang tidak hanya menjamin ketersediaan bahan baku bagi industri domestik, tetapi juga mendorong investasi di sektor pengolahan, pengembangan desain, peningkatan kualitas produk, serta ekspansi pasar ekspor,” ia mengatakan.
Sarmuji menekankan bahwa Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam industri rotan. Hal itu karena negara ini menyumbang sekitar 85 persen dari pasokan rotan mentah dunia.
“Keunggulan ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat industri pengolahan nasional sehingga Indonesia dapat bertransisi dari sekadar pemasok bahan baku menjadi produsen furnitur dan produk kerajinan bernilai tinggi,”
Di banyak wilayah, khususnya sentra rotan di Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Sumatra, industri ini telah menjadi sumber penghidupan masyarakat selama puluhan tahun. Efek ekonominya juga meluas ke berbagai sektor lain, mulai dari kehutanan, logistik, industri pendukung, perdagangan, desain kreatif, hingga sektor pariwisata. Dengan kata lain, setiap peningkatan daya saing industri furnitur dan kerajinan tidak hanya menghasilkan nilai ekspor yang lebih tinggi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan menggerakkan roda ekonomi daerah.
Potensi pasar global yang terus berkembang semakin memperkuat urgensi pengembangan industri ini. Kementerian Perindustrian menilai sektor furnitur dan kerajinan terhubung dengan pasar internasional yang nilainya mencapai lebih dari US$736 miliar. Angka tersebut menunjukkan bahwa peluang pertumbuhan masih sangat besar bagi Indonesia apabila mampu memperkuat kualitas, keberlanjutan, dan inovasi produknya. Tren konsumen dunia yang semakin menyukai produk ramah lingkungan, berkelanjutan, dan memiliki nilai budaya autentik juga menjadi peluang emas bagi furnitur rotan Indonesia. Material rotan yang dikenal ringan, fleksibel, dan berasal dari sumber daya terbarukan memiliki daya tarik tersendiri di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap isu lingkungan.
Ke depan, harapan besar tertuju pada hadirnya kebijakan yang lebih konkret dan berkelanjutan. HIMKI mendorong pemerintah untuk menyusun peta jalan pengembangan industri rotan nasional yang terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir. Dukungan tersebut mencakup perlindungan terhadap industri dalam negeri, penguatan rantai pasok, peningkatan kapasitas produksi, kemudahan akses pembiayaan, serta promosi yang lebih agresif di pasar internasional.
