Rupiah Melemah Awal Pekan, Bayangan Rp18.000 Kembali Menghantui

Nilai Tukar Rupiah

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada pembukaan awal pekan, bergerak melemah di kisaran Rp17.889 hingga Rp17.933 per dolar AS. Kondisi ini membalikkan momentum penguatan yang sempat terbangun pada akhir September dan awal Oktober.

Data dari Bloomberg mencatat rupiah dibuka melemah 21 poin atau 0,12 persen ke level Rp17.903 per dolar AS, dibandingkan penutupan Jumat (2/10) di Rp17.882 per dolar AS . Sumber lain mencatat pelemahan yang sedikit lebih dalam: Refinitiv mencatat rupiah di Rp17.950 (melemah 82 poin atau 0,46 persen).

Faktor eksternal menjadi pendorong dominan pelemahan rupiah hari ini. Analis Bank Woori Saudara (BWS), Rully Nova, menyatakan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak. Selain itu, yield obligasi pemerintah AS, hingga indeks dolar AS.

Baca Juga: Mendag Budi Santoso: Pangan Adalah Hak Hidup, Bukan Instrumen Geopolitik

Eskalasi tersebut dipicu oleh klaim gerakan Ansarullah Yaman yang menyerang kilang minyak Aramco di Riyadh, Arab Saudi, dengan rudal balistik dan pesawat nirawak—sebuah serangan yang diklaim mengenai sasaran dan menimbulkan kebakaran . Dalam konteks ekonomi, serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak global, yang pada gilirannya mendorong harga minyak naik dan memperkuat ekspektasi inflasi.

Bagi Indonesia sebagai net importir minyak, kenaikan harga minyak mentah berdampak langsung pada meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk impor energi, yang secara struktural menekan nilai tukar rupiah.

Sentimen eksternal juga diperberat oleh ekspektasi kebijakan moneter The Fed. Pelaku pasar disebut tengah mencermati rilis notulen meeting Federal Reserve (FOMC Minutes) yang telah menaikkan suku bunga 25 basis points dalam pertemuan terakhir. Rully Nova menduga notulen tersebut kemungkinan akan merilis sikap hawkish dengan rencana kenaikan suku bunga 1–2 kali hingga akhir tahun ini . Meskipun data Nonfarm Payrolls September yang jauh lebih lemah dari perkiraan sempat menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober menjadi sekitar 22,1 persen (dari sebelumnya 64,2 persen) , kekhawatiran terhadap inflasi energi yang dipicu konflik Timur Tengah dapat membalikkan ekspektasi tersebut.

Dari dalam negeri, pelaku pasar masih berada dalam mode wait and see menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mencatat bahwa pasar memantau cadangan devisa yang akan dirilis pada 7 Oktober 2026 dan Indeks Keyakinan Konsumen pada 8 Oktober 2026, yang akan menentukan arah arus modal asing dalam jangka pendek.

Bank Indonesia (BI) tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar melalui triple intervention di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun offshore NDF. BI juga mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen pada RDG September 2026, dengan alasan menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *