ASIAWORLDVIEW – Kompetisi CoCreate Pitch 2026 Indonesia dinilai bukan sekadar ajang unjuk gigi para pengusaha muda, melainkan cermin bagaimana ekosistem modal ventura dan inovasi. Acara yang dihelat oleh Alibaba.com ini menjawab persoalan struktural perekonomian nasional.
Ketua Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (AMVESINDO) yang juga akademisi dan salah satu juri CoCreate Pitch 2026 Indonesia, Eddi Danusaputro, memaparkan bahwa penilaian dalam kompetisi ini tidak hanya melihat ide atau produk yang menarik, tetapi juga seberapa baik peserta mampu menyampaikan problem statement atau opportunity beserta solusinya. Ternyata para finalis berhasil memaparkannya.
“Dalam kompetisi yang mempertemukan beragam produk dari berbagai sektor, ada faktor pembeda yang membuat sebuah produk atau tim menonjol dibandingkan yang lain. Peserta yang paling menonjol dan memiliki peluang lebih tinggi untuk scale up adalah mereka yang mampu menunjukkan model bisnis yang solid, termasuk bagaimana caranya menghasilkan pendapatan serta mencapai profitabilitas,” ia mengatakan saat menjawab pertanyaaan Asia World View.
Ini adalah pembeda antara startup yang hanya punya narasi dan startup yang punya jalur menuju keberlanjutan finansial. Produk yang beragam memang menjadi warna tersendiri, tambahnya, tetapi tanpa kejelasan model bisnis, sebuah gagasan sulit menarik minat investor atau mitra strategis.
“Penilaian tidak berhenti pada aspek teknis atau kreativitas semata, melainkan juga pada kemampuan eksekusi dan pemahaman pasar,” jelasnya.
Baca Juga: Alibaba.com Dorong UMKM dan Startup Indonesia Naik Kelas Lewat CoCreate Pitch 2026
Ia menilai acara ini sangat disambut baik karena dapat menjawab berbagai persoalan atau tantangan yang saat ini sedang dihadapi oleh perekonomian nasional. Kegiatan ini juga mencakup beragam sektor: pertanian, manufaktur, F&B (makanan dan minuman), kerajinan, ekonomi sirkular, dan lain sebagainya.
“Keberagaman sektor ini penting karena menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya terpusat pada teknologi digital, tetapi juga menyentuh sektor-sektor riil yang menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja. Pertanian, misalnya, menghadapi tantangan produktivitas dan akses pasar; manufaktur menghadapi tekanan efisiensi dan rantai pasok. Sementara F&B dan kerajinan menghadapi persaingan dan kebutuhan standardisasi. Kehadiran solusi berbasis startup di sektor-sektor ini berpotensi menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan ekonomi domestik,” paparnya.
CoCreate Pitch 2026 Indonesia dapat dibaca sebagai bagian dari upaya membangun jembatan antara inovasi dan pembiayaan. Modal ventura memainkan peran kunci dalam mengubah prototipe menjadi bisnis yang skalabel, dan kompetisi semacam ini menjadi kanal untuk mengidentifikasi tim dan produk yang layak mendapatkan dukungan. Namun, tantangan tetap ada: banyak startup di Indonesia masih menghadapi kesenjangan antara kualitas ide dan kesiapan eksekusi, terutama dalam hal tata kelola keuangan, kepatuhan regulasi, dan akses ke pasar.
Jika ekosistem modal ventura, akademisi, dan pelaku usaha dapat terus berkolaborasi, maka CoCreate Pitch bukan hanya menjadi ajang tahunan, melainkan bagian dari infrastruktur inovasi yang mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Model bisnis yang solid dan jalur menuju profitabilitas menjadi relevan, bukan hanya untuk memenangkan kompetisi, tetapi juga untuk bertahan dan tumbuh dalam jangka panjang,” tambahnya.
