ASIAWORLDVIEW – Industri asuransi Indonesia tengah berada di persimpangan yang menuntut keseimbangan antara inovasi dan ketahanan. Dalam ajang Indonesia Best Insurance Award 2026 yang digelar Warta Ekonomi Group di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Rabu (30/9/2026), penghargaan diberikan kepada perusahaan asuransi yang dinilai mampu menunjukkan kinerja positif, inovasi berkelanjutan, serta komitmen dalam memberikan perlindungan dan pelayanan berkualitas.
Penilaian tidak hanya mempertimbangkan pertumbuhan aset dan premi, tetapi juga kesehatan keuangan, tata kelola, solvabilitas, kualitas layanan, inovasi produk, serta kemampuan perusahaan memperkuat kepercayaan nasabah. Selain itu, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan risiko. Mulai dari ancaman siber, perubahan iklim, risiko kesehatan, percepatan digitalisasi, hingga tekanan pada lini asuransi kredit menjadi faktor penting.
CEO & Chief Editor Warta Ekonomi, Muhamad Ihsan, menyoroti bahwa penetrasi asuransi di Indonesia masih berada di level 2,7% berdasarkan data OJK, jauh tertinggal dibandingkan negara ASEAN lainnya.
“Penetrasi kita tertinggal di ASEAN dan ini PR bagi kita semua. Room for growth dari industri asuransi sebetulnya sangat terbuka besar,” ujarnya.
Baca Juga: Agentic AI Jadi Fondasi Layanan Asuransi Modern
Dari sisi kinerja, premi asuransi jiwa hingga Juli 2026 tumbuh 7,76% secara tahunan, sementara premi asuransi umum dan reasuransi tercatat turun 3,04% menjadi Rp88,36 triliun. Ihsan juga menyoroti munculnya kebutuhan perlindungan baru seiring meningkatnya investasi pada kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur digital, yang membuka peluang bagi cyber insurance, data center, business interruption, property, dan lainnya.
Warta Ekonomi menggabungkan Indonesia Best Insurance Award dengan Indonesia Best Social Development Award, karena pembangunan sosial dan ketangguhan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari perlindungan terhadap risiko.
“Pembangunan sosial yang berkelanjutan membutuhkan masyarakat yang tangguh, dan ketangguhan membutuhkan perlindungan,” ujarnya.
Berdasarkan riset Warta Ekonomi, 49% dari 45 perusahaan asuransi jiwa yang dianalisis memiliki pertumbuhan aset di atas median industri, sementara 49% dari 67 perusahaan asuransi umum mencatat pertumbuhan aset, pendapatan, dan laba di atas median, dan sekitar 50% perusahaan mencatat pertumbuhan aset dan laba di atas median.
Selain itu, transformasi digital, efisiensi operasional, kualitas underwriting dan keamanan data. Bahkan pemanfaatan teknologi dan analisis data turut menjadi penentu daya saing dan pertumbuhan industri.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan, menegaskan bahwa tantangan industri semakin kompleks. Apalagi dengan transformasi digital, ancaman siber, perubahan iklim, hingga meningkatnya risiko kesehatan—sehingga inovasi dan ketahanan harus berjalan beriringan.
“Inovasi tanpa ketahanan hanyalah spekulasi, dan ketahanan tanpa inovasi akan berujung pada stagnasi,” ia menjelaskan.
