ASIAWORLDVIEW – Industri Halal tengah menjadi fokus bagi negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Tak hanya Indonesia, menaruh harapan besar.
Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato’ Seri Ahmad Zahid Hamidi melempar satu angka yang layak dicatat para pelaku ekonomi: belanja konsumen Muslim di enam sektor utama ekonomi Islam mencapai sekitar USD2,6 triliun pada 2024. Bahkan diproyeksikan melonjak menjadi USD3,56 triliun pada 2029.
“Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan cermin dari denyut pasar yang terus membesar. Kondisi ini juga didorong oleh pertumbuhan populasi Muslim dunia, naiknya kelas menengah, serta pergeseran gaya hidup yang semakin sadar pada nilai halal, etis, dan berkelanjutan,” sebutnya dalam acara The 5th Summit of Halal.
Dengan laju pertumbuhan majemuk tahunan sekitar 6,5%, pasar ini bergerak lebih cepat dari banyak sektor ekonomi konvensional lainnya. Bagi investor, pelaku usaha, dan pembuat kebijakan, proyeksi tersebut adalah sinyal bahwa ekonomi Islam bukan lagi ceruk pinggiran, melainkan arus utama yang menuntut strategi serius, inovasi produk, dan penguatan rantai nilai dari hulu ke hilir.
Baca Juga: Sertifikasi Halal Buka Peluang Ekonomi Kreatif ke Pasar Global
Sektor makanan halal tetap menjadi penyumbang terbesar dengan pengeluaran melebihi USD1,33 triliun pada 2024. Artinya, lebih dari separuh belanja konsumen Muslim global masih terkonsentrasi pada kebutuhan pangan. Namun, membaca pasar halal hanya dari makanan sama seperti membaca gunung es hanya dari puncaknya.
Potensi yang jauh lebih besar justru terletak pada sektor-sektor turunan dan penunjang yang selama ini sering luput dari perhatian. Farmasi halal, misalnya, menuntut bahan baku, proses produksi, dan sertifikasi yang bebas dari unsur haram; kosmetik halal menuntut transparansi bahan dan uji keamanan; pariwisata halal membuka peluang bagi hotel, restoran, transportasi, dan destinasi ramah Muslim.
Bahkan logistik halal membutuhkan rantai dingin dan pelacakan yang menjamin integritas produk; teknologi berperan dalam sistem traceability, platform e-commerce, dan pembayaran digital; sedangkan keuangan syariah menjadi tulang punggung pembiayaan bagi seluruh ekosistem tersebut.
Cakupan industri halal yang luas inilah yang membuka pintu bagi pelaku ekonomi kreatif untuk masuk ke berbagai segmen rantai nilai. Mereka tidak harus selalu menjadi produsen barang jadi. Peluang justru terbuka lebar di sisi jasa dan nilai tambah: desain kemasan yang menarik dan komunikatif, branding yang mampu berbicara pada konsumen muda Muslim, konten digital dan pemasaran berbasis komunitas, aplikasi pencarian produk halal, sistem sertifikasi dan audit, platform logistik yang efisien, hingga fintech syariah yang memudahkan pembiayaan usaha kecil.
Di sektor pariwisata, misalnya, ekonomi kreatif dapat mengisi ruang melalui pengalaman kuliner halal, paket wisata ramah keluarga Muslim, atau suvenir berbasis kearifan lokal. Di sektor kosmetik dan farmasi, inovasi formula berbahan alam, kemasan ramah lingkungan, serta narasi etis menjadi pembeda di pasar yang semakin kompetitif. Dengan kata lain, pasar halal bukan hanya tentang apa yang dikonsumsi, tetapi juga tentang bagaimana produk dan jasa itu diproduksi, didistribusikan, dikomunikasikan, dan dikonsumsi.
Meski prospektif, pasar ini tidak bebas tantangan. Standar sertifikasi antarnegara masih belum sepenuhnya seragam, biaya kepatuhan bisa memberatkan pelaku usaha kecil, dan literasi konsumen tentang halal sering kali baru menyentuh aspek ritual, belum menyeluruh pada aspek kualitas, keamanan, dan keberlanjutan. Persaingan global juga semakin ketat, dengan negara-negara non-Muslim seperti Brasil, Thailand, dan Australia agresif menggarap pasar makanan halal. Karena itu, strategi ekonomi halal tidak cukup hanya mengandalkan label, tetapi harus dibangun di atas ekosistem yang kuat: regulasi yang jelas, lembaga sertifikasi yang kredibel, pembiayaan syariah yang inklusif, sumber daya manusia yang kompeten, serta infrastruktur logistik dan digital yang andal. Negara dengan populasi Muslim besar seperti Indonesia dan Malaysia memiliki modal demografis dan kultural, tetapi tanpa hilirisasi, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor, potensi itu hanya akan menjadi angka proyeksi tanpa dampak nyata.
Pada akhirnya, proyeksi US$3,56 triliun pada 2029 adalah panggilan untuk bergerak lebih cepat. Pelaku ekonomi kreatif perlu melihat ekonomi Islam bukan sebagai pasar yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari ekonomi masa depan yang menuntut nilai tambah, transparansi, dan keberlanjutan. Pemerintah perlu memastikan kebijakan mendukung riset, sertifikasi, dan akses pasar. Dunia usaha perlu membangun kemitraan lintas negara dan lintas sektor. Jika ekosistem ini dikelola dengan baik, pasar halal global tidak hanya menjadi mesin pertumbuhan, tetapi juga contoh bagaimana nilai etis dan religius dapat berjalan seiring dengan efisiensi ekonomi, inovasi teknologi, dan daya saing global.
