ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menunjukkan pelemahan di pasar spot, melanjutkan tren negatif yang terjadi pada akhir pekan sebelumnya pada Selasa (22/9/2026). Berdasarkan data dari berbagai sumber, rupiah dibuka melemah di kisaran Rp17.860 hingga Rp17.895 per dolar AS, dengan variasi angka yang tipis antar penyedia data.
Pelemahan rupiah hari itu dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik yang saling memperkuat. Dari luar negeri, sentimen utama datang dari pernyataan hawkish pejabat The Federal Reserve, Austan Goolsbee, yang kembali meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Pernyataan ini menyusul keputusan The Fed yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada 16 September 2026 menjadi kisaran 3,75–4,00 persen.
Kondisi tersebut membuka ruang bagi kenaikan lebih lanjut untuk merespons inflasi yang masih tinggi. Indeks dolar AS (DXY) pun bergerak stabil di level 100,425, bertahan setelah menguat 0,21 persen pada perdagangan sebelumnya. Kekuatan dolar AS ini secara langsung menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain faktor moneter global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi penekan tambahan. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas USD100 per barel. Kondisi ini meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal. Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik, yang memperkuat tekanan depresiasi terhadap rupiah.
Baca Juga: OJK Minta Himbara Jaga Risiko di Tengah Biayai Program Prioritas Pemerintah
Dari sisi domestik, pasar tengah menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026. Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan bahwa keputusan RDG BI yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen dapat membatasi dukungan terhadap penguatan rupiah.
BI akan menahan BI-Rate di level 5,75 persen dalam RDG tersebut, dengan pertimbangan bahwa BI telah melakukan pengetatan lebih dahulu pada Mei–Juni 2026. Dalam skenario Josua, jika The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Desember, BI berpotensi menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00 persen pada kuartal IV 2026. Dengan demikian, keputusan RDG September lebih tepat bagi BI untuk mengamati reaksi pasar setelah keputusan The Fed ketimbang langsung menaikkan suku bunga.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia menegaskan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Erwin menjelaskan bahwa intervensi akan dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
BI juga memperkuat strategi operasi moneter pro-market serta mendorong arus masuk modal asing melalui optimalisasi insentif dan diversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Erwin menambahkan bahwa secara umum pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan, dengan penguatan secara quarter-to-date sebesar 0,37 persen, dan posisi cadangan devisa meningkat ke level US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.

