ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil bangkit dari keterpurukan sehari sebelumnya dan dibuka di zona hijau pada Selasa (22/9/2026). Namun masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan berbagai sentimen yang membayangi. Indeks dibuka menguat tipis 7,61 poin atau 0,12 persen ke posisi 6.392,34.
Beberapa menit setelah pembukaan, penguatan IHSG semakin solid; data BEI pukul 09.04 WIB menunjukkan indeks naik 0,35 persen ke level 6.406,81, dengan 317 saham menguat, 160 melemah, dan 486 stagnan. Pada pukul 09.10 WIB, IHSG tercatat menguat 22,7 poin atau 0,36 persen ke 6.407,428, dan bahkan sempat menyentuh level tertinggi 6.412,67 di awal sesi. Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas MA60, yang membuka peluang technical rebound ke area 6.541–6.581 jika mampu bertahan di atas level 6.370. Level support krusial berada di 6.371, sementara resistance terdekat di kisaran 6.440–6.500.
Penguatan IHSG pada awal perdagangan ini disokong oleh hampir seluruh sektor, dengan IDX Sektor Barang Konsumen Non-Primer memimpin kenaikan 1,21 persen, diikuti sektor Barang Baku, Keuangan, Energi, dan Infrastruktur. Satu-satunya sektor yang melemah adalah Kesehatan, yang turun 0,15 persen. Di jajaran saham LQ45, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melonjak 5,76 persen ke Rp1.560, disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang naik 1,72–2,58 persen ke Rp4.740, dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) yang menguat 2,25 persen. Sementara itu, saham-saham yang menekan indeks antara lain PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang turun 1,21–1,52 persen, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) turun 0,67–1,33 persen, dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) turun 0,95 persen.
Baca Juga: Program Rekening Bank Massal WNI 17 Tahun Mulai Oktober 2026
Sentimen utama yang mendorong penguatan IHSG hari itu adalah penurunan harga minyak mentah dunia. Harga minyak WTI turun 4,5 persen ke level USD95 per barel, sedangkan Brent melemah lebih dari 3 persen ke USD100 per barel, dipicu oleh harapan diplomasi AS-Iran serta meningkatnya ketegangan Rusia-Ukraina yang justru mendorong ekspektasi pasokan yang lebih stabil. Turunnya harga minyak dinilai positif bagi pasar saham domestik karena dapat mengurangi tekanan inflasi dan biaya energi. Selain itu, penguatan indeks bursa global juga ikut membatasi pelemahan IHSG.
Dari sisi domestik, pelaku pasar tengah mencermati Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 22–23 September 2026. Bank Indonesia diperkirakan masih mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen, dengan perhatian utama pada forward guidance terkait respons bank sentral terhadap pelemahan rupiah dan perkembangan suku bunga global.
Namun, bayang-bayang tekanan masih terasa. Pada perdagangan Senin (21/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,88 persen ke level 6.384,73, disertai aksi jual bersih investor asing sebesar Rp503,12 miliar. Secara year-to-date, net foreign sell telah mencapai Rp101,33 triliun, dan IHSG masih mengalami penurunan sebesar 26,16 persen. Analis memperkirakan IHSG masih akan bergerak sideways cenderung melemah seiring sikap wait and see investor menanti hasil RDG BI, dengan proyeksi support di level 6.340–6.270 dan resistance di 6.440–6.500.
Meskipun secara teknikal IHSG berada dalam fase koreksi wajar setelah terbentuk pola wave [iv], struktur bullish jangka panjang masih berlaku, tetapi ruang penguatan tetap dibatasi oleh tekanan rupiah dan aliran dana asing. Secara keseluruhan, pergerakan IHSG pada 22 September 2026 mencerminkan upaya pemulihan di tengah ketidakpastian global dan domestik, dengan penurunan harga minyak dan ekspektasi kebijakan BI menjadi katalis utama yang menentukan arah indeks pada sesi berikutnya.

