ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah tipis pada Senin (14/9/2026), di tengah pasar yang menanti keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka pada level Rp17.614 per dolar AS, melemah 3 poin atau sekitar 0,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.611.
Sementara itu, data Refinitiv justru menunjukkan rupiah terapresiasi 0,14 persen dan membuka perdagangan di posisi Rp17.560 per dolar AS. Perbedaan data antar sumber ini mencerminkan tingginya volatilitas di awal sesi, namun secara umum pasar masih dibayangi tekanan eksternal yang cukup kuat.
Faktor utama yang menekan rupiah hari ini adalah ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Setelah rilis data inflasi konsumen AS untuk Agustus 2026 yang menunjukkan kenaikan 0,4 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan pekan ini melonjak menjadi 87 persen, dari sebelumnya 72 persen pada Kamis. Inflasi inti AS bahkan mencatat kenaikan terbesar sejak April, memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4 persen.
Baca Juga: Setiap WNI Berusia 17 Tahun Wajib Punya Rekening, Pemerintah Berikan Rp50.000 Per Akun
Ekspektasi ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang telah mendekati level 4,96 persen, serta indeks dolar AS yang menyentuh level 99. Dolar AS yang lebih kuat dan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi membuat aset-aset di pasar negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi kurang menarik bagi investor global. Rully Nova juga menyoroti bahwa ekspektasi kenaikan bunga AS berpotensi mendorong Bank Indonesia (BI) untuk mengambil arah kebijakan moneter yang lebih ketat dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan pada 22-23 September 2026.
Tekanan terhadap rupiah semakin diperberat oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang telah menembus level USD100 per barel. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memuncak, termasuk serangan baru terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal di kawasan Teluk, meningkatkan risiko gangguan terhadap pasokan dan jalur pengiriman energi global. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober sempat menyentuh level USD100,88 per barel, naik 5,03 persen dari hari sebelumnya, dan menandai level tertinggi sejak 20 Mei 2026.
Di sisi domestik, terdapat beberapa faktor yang sedikit meredam tekanan terhadap rupiah. Cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, naik dari US$145,3 miliar pada bulan sebelumnya. Posisi ini setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Kenaikan cadangan devisa ini menunjukkan adanya aliran modal masuk ke pasar keuangan domestik, yang turut membantu menstabilkan rupiah.
Bank Indonesia juga terus melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Gubernur BI, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa Indonesia mendorong perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi antarnegara BRICS, sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Langkah ini disampaikan dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS di Mumbai, India, pada 9-10 September 2026. Selain itu, BI juga terus mengoptimalkan intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), pasar spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk meredam gejolak rupiah.
Pelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga tertekan terhadap dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, yen Jepang melemah 0,18 persen, dolar Hong Kong 0,01 persen, dolar Singapura 0,09 persen, dolar Taiwan 0,15 persen, won Korea Selatan 0,17 persen, dan peso Filipina 0,19 persen. Ringgit Malaysia juga melemah 0,03 persen, baht Thailand 0,18 persen, dan rupee India 0,12 persen. Sementara itu, yuan China menjadi satu-satunya mata uang Asia yang menguat tipis 0,02 persen terhadap dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bukanlah fenomena yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari dinamika global yang lebih luas, di mana dolar AS sedang menguat terhadap sebagian besar mata uang dunia.

