IHSG Melemah di Tengah Sentimen Global, Sektor Energ Justru Bersinar

Ilustrasi pergerakan saham berada di zona merah.

ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona merah pada Senin (31/8/2026). dan bergerak melemah sepanjang sesi perdagangan. Pelemahan ini terjadi di tengah dominasi sentimen global yang kurang kondusif, mulai dari sinyal kebijakan moneter The Fed yang hawkish hingga eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

IHSG mengawali perdagangan dengan kelemahan di berbagai level. Beberapa sumber mencatatkan pembukaan yang berbeda, mencerminkan volatilitas di awal sesi. IHSG dibuka di level 6.511,11, melemah 7,01 poin atau 0,11%. Sumber lain mencatat pembukaan di 6.503,89 atau 6.505,13.

Sepanjang perdagangan pagi, IHSG bergerak dalam rentang 6.488,70 (terendah) hingga 6.525,11 (tertinggi). IHSG diperkirakan ditutup melemah tipis 0,06% ke level 6.518,12, melanjutkan tren pelemahan dari pekan sebelumnya yang juga turun 0,12% secara mingguan.

Pelemahan IHSG tidak terlepas dari tekanan sentimen negatif yang dominan. Sentimen terbesar datang dari pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang memberi sinyal hawkish di simposium Jackson Hole. Ia menyatakan inflasi AS masih di atas target 2% dan membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut. Hal ini mendorong penguatan dolar AS dan pelemahan harga komoditas, yang berdampak negatif pada aset berisiko seperti saham di negara berkembang.

Baca Juga: Risiko Regulatory Capture Ancam Reputasi Dagang RI, Mengapa?

Ketegangan geopolitik meningkat setelah AS kembali menyerang posisi Iran di dekat Selat Hormuz pada Minggu (30/8). Serangan ini menargetkan dua peluncur roket Iran di Pulau Larak. Eskalasi ini berpotensi mengganggu jalur perdagangan energi dunia dan meningkatkan harga minyak, yang pada gilirannya menekan sentimen pasar secara global.

Faktor domestik yang signifikan adalah pelaksanaan rebalancing indeks MSCI yang efektif pada penutupan perdagangan hari ini. Perubahan ini, yang mengeluarkan saham GOTO dan CPIN dari MSCI Global Standard Index, berpotensi memicu lonjakan volume transaksi, terutama menjelang penutupan, karena manajer dana harus menyesuaikan portofolionya.

Di tengah pelemahan indeks, pergerakan sektor dan saham individual menunjukkan variasi yang menarik. Sektor Barang Baku menjadi penekan utama IHSG dengan pelemahan mencapai 0,94%.

Di sisi lain, sektor Perindustrian menjadi penopang utama dengan penguatan 0,97%. Sektor Energi juga mencatatkan penguatan yang signifikan sebesar 1,13%. Tekanan terlihat pada saham-saham besar (big caps) seperti AMMN (turun 2,27%), HRTA (turun 4,29%), dan MDKA (turun 1,97%). Saham AADI memimpin penguatan dengan kenaikan 5,87%, diikuti oleh ADRO (naik 3,75%) dan CUAN (naik 1,85%).

Analis memberikan proyeksi yang beragam untuk pergerakan IHSG ke depan. BNI Sekuritas memproyeksikan potensi rebound IHSG setelah berhasil bertahan di atas level support psikologis 6.500, dengan rentang support di 6.460-6.500 dan resistance di 6.580-6.620. Sementara itu, analis dari Indo Premier Sekuritas (IPOT) tetap optimistis bahwa tren penguatan IHSG akan berlanjut di bulan September.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *