Teknologi Kolagen Stimulator: Tren Baru Perawatan Kulit Cegah Penuaan Dini

Ilustrasi penggunaan kolagen stimulator, dengan memasukkan bahan polimer ke dalam kulit

‎ASIAWORLDVIEW – Produksi kolagen alami tubuh mulai menurun sekitar satu persen per tahun sejak usia 25, dan efeknya baru terasa signifikan di usia 40-an. Sebagai komponen penopang struktur kulit, berkurangnya kolagen berkaitan dengan munculnya tanda penuaan seperti kulit kendur dan kerutan.

Ahli Dermatologi, Venereologi, dan Estetika dr Deasy Lius, Sp.DVE mengatakan kolagen stimulator bekerja dengan memasukkan bahan polimer ke dalam kulit. Hal tersebut untuk merangsang sel tubuh memproduksi kolagen sendiri. Kolagen stimulator umumnya dianggap aman bila dilakukan oleh tenaga medis berpengalaman.

‎“Kolagen stimulator itu adalah bahan polimer yang disuntikan ke dalam kulit kita. Jadi dia bukan kolagen sendiri yang disuntikan ke kulit kita, tapi suatu bahan yang membuat sel kita produksi kolagen sendirinya,” katanya.

Kolagen stimulator memiliki manfaat utama dalam mengurangi kerutan dan kulit kendur dengan cara merangsang tubuh memproduksi kolagen alami. Berbeda dengan filler yang langsung menambah volume, kolagen stimulator bekerja lebih bertahap sehingga hasilnya terlihat lebih halus dan natural, sekaligus memperkuat struktur kulit dari dalam.

Baca Juga: Tips Aman Konsumsi Minuman Kolagen yang Tengah Viral

‎Salah satu bahan yang berkembang dalam pendekatan tersebut adalah PLLA. Bahan ini bukan hal baru dalam estetika, tetapi karakteristik partikelnya dapat berbeda. Pada PLLA konvensional, partikelnya disebut memiliki banyak rongga dan bentuk yang tidak beraturan.​​​​​​​

Namun, prosedur ini tetap memiliki risiko. Efek samping ringan yang umum terjadi adalah kemerahan, bengkak, dan nyeri di area suntikan.

Stimulasi kolagen tetap memiliki risiko, tambahnya, apabila penggunaannya berlebihan atau bahan ditempatkan secara tidak tepat. Respons tersebut dapat memicu fibrosis, yaitu pembentukan jaringan seperti jaringan parut.

“Kolagen stimulator bukanlah perawatan bebas risiko. Aman bila dilakukan di klinik estetika dengan standar medis tinggi, namun tetap ada kemungkinan efek samping. Pasien perlu memahami bahwa hasilnya bertahap, bukan instan, dan harus melalui proses konsultasi dokter untuk menilai kecocokan, kondisi kulit, serta meminimalkan risiko,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *