ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka dengan penguatan yang cukup signifikan di zona hijau, Selasa (18/8/2026). Kondisi ini melanjutkan tren positif dari akhir pekan sebelumnya. Pasar saham Indonesia kembali dibuka setelah libur dalam rangka peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.
IHSG langsung mencatatkan kenaikan. Berdasarkan berbagai sumber, pergerakan IHSG di awal sesi perdagangan menunjukkan variasi angka, namun semuanya mengonfirmasi sentimen positif yang kuat. Data dari Bursa Efek Indonesia mencatat IHSG menguat 64,69 poin atau 1,01% ke level 6.466,58, sementara sumber lain seperti RRI melaporkan indeks dibuka di posisi 6.462,58 dengan kenaikan 60 poin atau 0,95%.
IHSG dibuka menguat 46,94 poin atau 0,73% ke posisi 6.448,83. Dari catatan yang lebih tinggi, CNN Indonesia melaporkan indeks saham bahkan sempat naik 76,02 poin atau 1,19% ke level 6.477 pada pukul 09.09 WIB, dengan level tertinggi menyentuh 6.485. Penguatan ini juga tercermin dari aktivitas perdagangan yang ramai, dengan sekitar 337 saham menguat dan kapitalisasi pasar mencapai Rp11.418 triliun.
Penguatan IHSG pada hari ini tidak lepas dari sejumlah sentimen positif dari dalam negeri (domestik) yang menjadi katalis utama. Sentimen terbesar berasal dari pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan pada Jumat (14/8) lalu, yang dijabarkan secara rinci dalam Sidang Tahunan MPR dan penyampaian pengantar RAPBN 2027.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan sejumlah pencapaian dan target ekonomi ambisius yang langsung disambut positif oleh pelaku pasar. Di antaranya adalah realisasi investasi yang mencapai Rp1.010 triliun pada semester I-2026 dengan penciptaan lebih dari 1,4 juta lapangan pekerjaan baru, serta pertumbuhan ekonomi semester I-2026 yang tercatat sebesar 5,45% secara tahunan (year-on-year) dan ditargetkan dapat tumbuh hingga 6% pada akhir tahun 2026.
Target pertumbuhan ini bahkan lebih tinggi dari target APBN 2026 yang sebesar 5,4%. Lebih lanjut, pemerintah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp2.322 triliun pada tahun 2027, meningkat dari target Rp2.041 triliun di tahun 2026. Pencapaian lain yang turut menopang sentimen adalah pernyataan Presiden mengenai swasembada pangan untuk komoditas seperti beras, jagung, dan gula, serta keberhasilan Indonesia tidak lagi mengimpor solar sejak 1 Juli 2026 berkat dukungan biodiesel B50 yang diperkirakan menghemat devisa hingga Rp170 triliun per tahun. Hal ini menjadi angin segar bagi sektor-sektor terkait seperti perbankan, konsumsi, industri, konstruksi, poultry, perkebunan, dan pupuk.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati sejumlah agenda ekonomi penting lainnya yang akan berlangsung dalam pekan ini, terutama Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar pada 18-19 Agustus 2026. Pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% setelah sebelumnya menaikkan suku bunga secara agresif sebesar 75 basis poin pada periode April-Juni 2026.
Keputusan ini akan sangat krusial karena akan memberikan sinyal mengenai stabilitas rupiah dan prospek likuiditas ke depan. Selain RDG BI, investor juga menantikan rilis data Statistik Utang Luar Negeri (SULNI) Indonesia per Juni 2026 serta risalah rapat The Fed (FOMC Minutes) yang akan dirilis pada Kamis dini hari untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga AS selanjutnya.
Di sisi global, sentimen yang beredar cenderung beragam dan menjadi faktor yang turut mewarnai pergerakan IHSG. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama, terutama setelah berakhirnya gencatan senjata antara AS dan Iran tanpa kesepakatan baru.
Presiden AS bahkan dikabarkan mengancam akan melakukan serangan ke Oman, yang memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik dan dampaknya terhadap pasokan energi. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak mentah yang ditutup menguat lebih dari 2,5% serta harga emas yang ikut menguat.
Di sisi lain, data ekonomi AS yang relatif lemah, seperti inflasi yang moderat dan penjualan ritel yang menurun, justru meredam ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sehingga memberikan ruang bagi aset-aset di negara berkembang termasuk Indonesia. Namun demikian, para analis tetap mewaspadai potensi koreksi. Kiwoom Sekuritas menyatakan bahwa selama IHSG mampu bertahan di atas level 6.377, penguatan berpotensi berlanjut menuju resistance di 6.454, dan jika berhasil ditembus, indeks berpeluang menguji area 6.500 hingga 6.600.

