Sop Ayam Asam Pedas Hingga Scallop Tartare Naniura Jadi Sorotan di Fine Dining Ala Nusantara

Chef Degan Septoadji

ASIAWORLDVIEW – Chef Degan Septoadji dan timnya memainkan sebuah seni tinggi yang jauh lebih kompleks dari sekadar memasak. Ini adalah seni menerjemahkan jiwa Nusantara ke dalam bahasa fine dining Eropa—sebuah upaya yang membutuhkan ketelitian seorang kurator museum dan keberanian seorang petualang kuliner.

Karena ketika teknik haute cuisine bertemu dengan cabai, andaliman, dan kunyit, hasilnya bukan sekadar perpaduan rasa, melainkan sebuah pernyataan budaya yang utuh. Menariknya, respons para tamu yang hadir cukup beragam, menegaskan bahwa selera adalah hal yang sangat personal. Setiap tamu memiliki favoritnya masing-masing, dan perbedaan pendapat inilah yang justru membuat pengalaman bersantap terasa begitu hidup.

Salah satu hidangan yang paling banyak menyita perhatian adalah Scallop Tartare Naniura—sebuah mahakarya yang secara visual terasa familiar di mata para penikmat fine dining Eropa. Begitu masuk ke mulut, karakter Indonesia-nya langsung membentur langit-langit rasa.

Baca Juga: Diplomasi Gastronomi di Panggung Restoran Michelin

“Respons tamu cukup menarik karena masing-masing punya favorit yang berbeda. Salah satu yang banyak mendapat perhatian adalah Scallop Tartare Naniura, karena konsepnya cukup familiar dari sisi penyajian, tetapi memiliki karakter rasa Indonesia yang sangat kuat melalui andaliman dan bumbu naniura,” ia mengatakan kepada Asia World View.

Scallop Tartare Naniura
Scallop Tartare Naniura

Andaliman yang memberikan sensasi getir khas Sumatra Utara, dipadukan dengan bumbu naniura yang segar dan kaya rempah, menciptakan kejutan yang menggugah selera, membuat tamu takjub akan kedalaman rasa yang bisa dihadirkan dari sebuah olahan scallop mentah.

Tak kalah memikat, Sop Ayam Asam Pedas yang mengusung tarikan bumbu Padang menjadi salah satu menu yang benar-benar menonjol di antara deretan hidangan lainnya. Ada kehangatan yang familiar dari sop ayam—seperti pelukan ibu di kala hujan—tetapi kemudian, saat kuahnya melewati tenggorokan, kompleksitas bumbu Padang yang sarat akan lengkuas, serai, dan cabai keriting langsung mengangkat hidangan ini ke level yang jauh lebih berani.

Rasa asam yang menyegarkan beradu dengan pedas yang membara, menciptakan simfoni yang terasa akrab sekaligus mengejutkan bagi tamu yang baru pertama kali merasakannya. Begitu pula dengan Udang Bakar Jimbaran, yang berhasil mencuri hati banyak pengunjung berkat rasa bakarnya yang sangat familiar—aroma asap yang mengingatkan pada sore hari di tepi pantai—tetapi sambal serta bumbu Indonesianya memberikan dimensi baru yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.

“Ini menjadi bukti nyata bahwa makanan telah membuka ruang dialog. Bagi saya, ini bukan hanya tentang menyajikan makanan Indonesia di luar negeri; ini adalah tentang membuka percakapan melalui makanan,” ia menambahkan.

Melalui perjalanan kuliner ini, kesan yang tertinggal sangatlah positif. Hal yang paling menggembirakan bukanlah pujian semata, tetapi melihat ekspresi penasaran dan keterkejutan di wajah tamu-tamu yang mungkin sebelumnya belum terlalu akrab dengan masakan Nusantara. Mereka tidak hanya menikmati, tetapi juga bertanya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Ini bumbunya apa?” atau “Ini berasal dari daerah mana di Indonesia?”

“Ketika seseorang selesai menikmati hidangan lalu bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, itu adalah momen di mana jembatan budaya mulai terbangun. Dan menurut saya, tidak ada cara yang lebih elegan, lebih hangat, dan lebih universal untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia selain melalui cerita-cerita yang tersembunyi di balik setiap suapan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *