ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (28/7/2026), dibuka melemah di zona merah, melanjutkan tren koreksi yang dimulai pada pekan sebelumnya. Pada awal sesi pertama, indeks berada di level 6.175,20, terpangkas 10,58 poin atau 0,17 persen dari penutupan Senin di posisi 6.185,78. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen hati-hati yang masih menyelimuti pasar, baik dari faktor domestik maupun global.
Dari sisi eksternal, pelaku pasar tengah bersikap wait and see menjelang sederet agenda penting ekonomi global, terutama hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang dijadwalkan mengumumkan kebijakan suku bunga pada Rabu, 29 Juli 2026. Perangkat CME FedWatch menunjukkan tingkat ekspektasi sebesar 62 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga.
Selain itu, investor juga mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh untuk memperoleh petunjuk mengenai prospek kebijakan moneter pada sisa tahun ini, serta rilis data indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bulan Juni 2026. Sentimen dari mancanegara juga dipengaruhi oleh kekhawatiran persaingan industri semikonduktor global. Laporan menyebut China mulai memproduksi mesin litografi DUV secara massal. Investor juga mencermati besarnya belanja modal untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan teknologi besar, seperti Alphabet dan Tesla, yang berpotensi menekan margin keuntungan.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Sentimen negatif masih dipicu oleh kabar mengejutkan pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang diumumkan pada Senin pagi. Meskipun Perry mengundurkan diri secara sukarela karena alasan pribadi, pasar masih menantikan kepastian penunjukan Gubernur BI definitif. Untuk sementara, posisi Gubernur BI diisi oleh Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas. Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto meminta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dilibatkan dalam setiap rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), langkah yang diharapkan dapat menjadi sentimen positif bagi pasar.
IHSG menunjukkan dinamika pergerakan yang cukup volatil. Pada awal perdagangan, indeks bergerak di rentang 6.169,28 hingga 6.199, dengan level tertinggi menyentuh 6.199 di zona hijau. Aktivitas perdagangan saham terpantau cukup ramai, dengan volume transaksi mencapai 547 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 231,4 triliun pada awal sesi. Sebanyak 238 saham bergerak naik, 163 saham turun, dan 564 saham lainnya stagnan.
Saham-saham perbankan menjadi salah satu sektor yang memberikan tekanan terhadap IHSG. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 0,79 persen ke level 6.250, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) turun 0,41 persen ke posisi 1.215, sementara saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dibuka stagnan. Sektor yang terkoreksi antara lain kesehatan (-0,06 persen), teknologi (-0,09 persen), infrastruktur (-0,33 persen), konsumer primer (-0,54 persen), energi (-0,19 persen), keuangan (-0,11 persen), dan bahan baku (-0,17 persen).
Sementara itu, sektor yang masih mampu menguat antara lain industri 0,01 persen, properti 0,14 persen, konsumer non primer 0,18 persen, dan transportasi 0,26 persen.
Para analis memproyeksikan IHSG masih akan bergerak dalam fase koreksi dengan volatilitas yang tinggi. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyebut bahwa apabila tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji area support 6.159-6.144, kemudian di 6.130 dan 6.119. Jika kedua level itu ditembus, koreksi berpotensi berlanjut di 5.931.

