ASIAWORLDVIEW – Kondisi pasar kripto hari ini, Rabu (24/6/2026), menunjukkan tekanan yang cukup signifikan, terutama pada Bitcoin. Harga BTC berada di kisaran USD62.563–62.887 atau sekitar Rp 1,12 miliar per koin. Penurunan harian 2,04%–2,50% dan koreksi mingguan mencapai 4,36%–4,77%.
Kapitalisasi pasar Bitcoin sendiri masih besar, sekitar USD 1,28 triliun (Rp 22.837 triliun), namun tren pelemahan ini menandakan adanya tekanan dari faktor eksternal maupun internal. Salah satu pemicu utama adalah arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot yang mencapai USD 68,18 juta (Rp 1,2 triliun) pada 22 Juni.
Kondisi ini menunjukkan melemahnya permintaan institusional. Selain itu, ketegangan geopolitik global membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, sehingga minat terhadap kripto menurun. Dari sisi teknikal, kegagalan BTC bertahan di atas level USD 63.000 memperbesar risiko penurunan ke area support USD 61.000–62.000, yang menjadi titik krusial bagi pergerakan harga selanjutnya.
Baca Juga: Indodax Soroti Dampak Geopolitik pada Pemulihan Pasar Kripto
Jika dibandingkan dengan kripto lain, tren pelemahan juga terlihat jelas. Ethereum turun 3,13% harian ke Rp 29,9 juta/koin, Binance Coin terkoreksi 1,61% ke Rp 10,3 juta/koin. Sementara Cardano dan Solana masing-masing jatuh lebih dari 4% dalam sehari. XRP turun 1,52% ke Rp 19.847/koin.
Dogecoin merosot 4,15% ke Rp 1.413/token. Secara keseluruhan, pasar kripto global turun 2,34% dalam 24 jam terakhir dengan kapitalisasi pasar menyusut ke US$ 2,15 triliun. Kondisi ini menegaskan bahwa tekanan bukan hanya terjadi pada Bitcoin, melainkan meluas ke seluruh ekosistem kripto.
Implikasinya, investor ritel perlu lebih waspada terhadap volatilitas tinggi, terutama jika BTC menembus support di bawah US$ 61.000 yang bisa memicu penurunan lebih dalam. Sementara itu, tren keluar dana dari investor institusional menunjukkan lemahnya kepercayaan jangka pendek terhadap kripto sebagai aset lindung nilai.
Kombinasi faktor teknikal, fundamental, dan sentimen global, pasar kripto saat ini berada dalam fase koreksi yang cukup tajam. Bagi investor, penting untuk menimbang risiko dengan cermat, mengatur strategi portofolio, dan tidak hanya terpaku pada pergerakan jangka pendek.
