ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin hari ini, Selasa (23/6/2026), berada di kisaran USD 63.836–64.129 atau sekitar Rp 1,14 miliar. Kenaikan harian sekitar 0,4–0,7%.
Kapitalisasi pasar mencapai USD 1,28 triliun, menandakan bahwa Bitcoin tetap menjadi aset kripto terbesar dan paling dominan. Pergerakan harga hari ini cukup dinamis: sempat bullish hingga menyentuh USD 65.498, lalu terkoreksi ke USD 63.024, sebelum akhirnya stabil di atas USD 63.800.
Fluktuasi ini mencerminkan karakteristik Bitcoin sebagai aset dengan volatilitas tinggi, yang sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal baik geopolitik maupun kebijakan moneter global.
Salah satu faktor utama yang menahan tekanan jual adalah perdamaian sementara antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz. Hal ini mengurangi kekhawatiran investor terhadap gangguan pasokan energi global, sehingga arus keluar dana dari pasar kripto melambat.
Baca Juga: Indodax Soroti Dampak Geopolitik pada Pemulihan Pasar Kripto
Selain itu, ETF Bitcoin spot yang sebelumnya mencatat arus keluar dana selama enam pekan berturut-turut. Kini mulai menunjukkan tanda stabilitas, memberi sinyal bahwa investor institusional kembali menahan posisi mereka.
Namun, kebijakan moneter dari Federal Reserve yang masih mempertahankan suku bunga tinggi tetap menjadi hambatan besar bagi kenaikan harga lebih lanjut, karena investor cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko.
Bitcoin juga menunjukkan korelasi kuat dengan indeks S&P 500 sekitar 61%, menandakan bahwa pergerakan harga kripto ini tidak sepenuhnya independen, melainkan sangat sensitif terhadap sentimen makroekonomi dan kebijakan suku bunga. Dibandingkan dengan kripto lain, Ethereum berada di kisaran USD 1.716–1.727 dengan kenaikan tipis.
BNB stabil di USD 587–588. Sementara XRP dan Solana justru mengalami penurunan. Menariknya, TRON mencatat kenaikan cukup signifikan hingga 1,75%, menunjukkan adanya rotasi modal ke altcoin tertentu.
Meski hari ini Bitcoin relatif stabil, risiko tetap tinggi. Volatilitas pasar bisa memicu koreksi mendalam jika The Fed semakin hawkish. Geopolitik rapuh di Timur Tengah juga berpotensi menimbulkan tekanan baru, sementara persaingan aset dari saham berbasis AI dapat mengalihkan minat investor dari kripto. Dengan kondisi ini, Bitcoin masih menjadi barometer utama pasar kripto.

