ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (23/6/2026), dibuka melemah ke level 6.096,50. Angkanya turun sekitar 17–20 poin atau 0,28–0,33% dibandingkan penutupan sebelumnya di 6.116,69.
Pelemahan ini mencerminkan sikap hati-hati investor yang menunggu hasil MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026, yang akan menentukan apakah Indonesia tetap masuk kategori Emerging Market.
Ketidakpastian geopolitik global, terutama terkait hubungan Amerika Serikat–Iran, juga menambah tekanan terhadap pasar. Rentang perdagangan awal IHSG berada di 6.084,65–6.101,59, dengan kapitalisasi bursa mencapai Rp 10.680 triliun, volume transaksi 288,9 miliar saham, dan nilai transaksi Rp 260,6 miliar.
Dari sisi sektoral, sektor barang baku mencatat koreksi terbesar sebesar 2,49%, menunjukkan adanya tekanan pada komoditas dan industri dasar. Sebaliknya, sektor energi justru menguat 1,47%, didorong oleh kenaikan harga minyak global setelah pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Baca Juga: IHSG Menguat, Kebijakan BI Jadi Penopang
Investor asing masih mencatat aksi jual signifikan senilai Rp 1,11 triliun pada perdagangan sebelumnya. Kondisi ini menandakan arus modal keluar yang cukup kuat.
Analis merekomendasikan beberapa saham untuk strategi buy on weakness maupun spec buy, seperti BBCA dengan target harga Rp 6.850–7.150, ISAT di Rp 1.840–1.950, NCKL di Rp 970–1.050, serta RAJA yang bergerak sideways di Rp 3.740–3.800. Selain itu, saham TINS, ADRO, OASA, AMRT, dan BULL juga masuk radar untuk trading jangka pendek.
Secara teknikal, IHSG memiliki support di level 6.080–6.065, dengan potensi uji psikologis di 6.000 jika pelemahan berlanjut. Sementara itu, resistance berada di 6.220–6.286, yang bisa menjadi target rebound apabila momentum positif muncul.
Sentimen domestik juga menambah tekanan, terutama pelemahan rupiah ke Rp 17.859 per USD dan ketidakpastian terkait implementasi UU P2SK. Dengan kondisi ini, IHSG hari ini bergerak dalam tren melemah, namun peluang rebound tetap terbuka jika sentimen global membaik dan investor asing kembali masuk ke pasar.
