ASIAWORLDVIEW – Analis kripto Ali Martinez menyuarakan kekhawatirannya mengenai struktur saham preferen STRC milik Strategy. Menurutnya, instrumen tersebut memiliki mekanisme umpan balik.
Ia meyakini hal ini dapat semakin membebani keuangan perusahaan jika Bitcoin mengalami periode penurunan yang berkepanjangan. Komentarnya ini muncul di tengah kondisi Strategy yang terus mengandalkan produk pasar modal untuk mendanai aksi akumulasi Bitcoin-nya.
Ia menjelaskan bahwa perbedaannya terletak pada cara STRC bereaksi saat pasar mengalami tekanan. Obligasi korporasi standar memiliki tingkat bunga yang telah ditentukan sebelumnya, dan investor mengalami kerugian seiring dengan penurunan nilai obligasi. Sementara itu, kewajiban pembayaran bunga tetap sama bagi penerbit obligasi.
Sebaliknya, STRC memiliki mekanisme dividen yang dapat disesuaikan untuk membantu mempertahankan nilai pasarnya. Jika harga Bitcoin sedang dalam tren penurunan dan permintaan investor menurun, Martinez mengatakan bahwa Strategy mungkin harus menaikkan pembayaran dividen untuk menarik pembeli dan mencegah harga STRC jatuh.
Baca Juga: Bitcoin Bertahan di Atas USD63.000, Data Tenaga Kerja Tekan Sentimen Kripto
Untuk menyoroti kesamaan antara kejatuhan token Terra (LUNA) pada Mei 2022 dan penurunan STRC baru-baru ini, Martinez memaparkan sebuah grafik. Grafik tersebut menunjukkan bahwa LUNA telah anjlok sebesar 99,95% selama krisis, sementara harga STRC telah turun 17,45% sejak diluncurkan.
“Struktur STRC milik Strategy memiliki beberapa kesamaan konseptual dengan penyebab keruntuhan Terra-Luna pada 2022,” kata Martinez.
Ia menjelaskan bahwa Strategy cukup berbeda dari Terra dan tidak memiliki token algoritmik. Namun situasinya bisa menjadi jauh lebih rumit saat berada di bawah tekanan.
Jika harga Bitcoin turun, hal itu mungkin berarti lebih banyak dana tunai harus dialokasikan ke STRC untuk menstabilkannya di sekitar nilai nominal USD100. Ia memperingatkan bahwa situasi semacam itu dapat menciptakan apa yang ia gambarkan sebagai “lingkaran berbahaya”, di mana penurunan nilai aset disertai dengan meningkatnya kewajiban keuangan
