ASIAWORLDVIEW – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok paling rentan terdampak perubahan iklim karena sistem imun dan organ pernapasan mereka masih dalam tahap perkembangan.
“Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim karena sistem tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan,” sebut Anggota Satuan Tugas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim (KLPI) IDAI Dr. dr. Riyadi, Sp.A. Subsp.Inf.P.T(K), M.Kes, dikutip Asia World View, Rabu (10/6/2026).
Ia menjelaskan anak-anak menghirup udara lebih banyak dibandingkan berat tubuhnya sehingga lebih mudah terpapar partikel polutan yang berbahaya bagi kesehatan. Kondisi tersebut membuat anak lebih rentan mengalami infeksi saluran pernapasan, alergi, hingga asma.
Sistem imun yang belum matang, tambahnya, membuat mereka lebih mudah terserang penyakit. Sementara saluran pernapasan yang lebih sempit menjadikan anak-anak lebih rentan terhadap paparan polutan udara.
Baca Juga: Langkah Preventif Hadapi Lonjakan ISPA, Combiphar Perkuat Kesehatan Keluarga
Menurut dia, dampak perubahan iklim terhadap kesehatan anak bahkan dapat dimulai sejak masa kehamilan. Paparan polusi udara dan logam berat berpotensi mengganggu pertumbuhan janin serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada masa awal kehidupan.
“Secara proporsional mereka menghirup lebih banyak udara dibanding berat tubuhnya, sehingga partikel berbahaya lebih cepat masuk ke dalam tubuh,” jelasnya.
Bahkan sejak dalam kandungan, paparan polusi udara dan logam berat dapat mengganggu pertumbuhan janin. Selain itu, menurunkan berat badan lahir, serta meningkatkan risiko infeksi di tahun-tahun awal kehidupan.
Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan anak terlihat nyata dalam berbagai aspek. Penyakit pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan, alergi, dan asma meningkat akibat kualitas udara yang buruk. Perubahan suhu dan curah hujan memperluas wilayah penyebaran nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles, sehingga risiko DBD dan malaria semakin tinggi.
Cuaca ekstrem seperti banjir juga memicu gangguan pencernaan, termasuk diare, karena sanitasi yang buruk dan air yang terkontaminasi. Selain itu, kekeringan dan gagal panen akibat iklim ekstrem menurunkan akses anak terhadap makanan bergizi, sehingga meningkatkan risiko malnutrisi dan stunting.
