ASIAWORLDVIEW – Musikal “Senja Teduh Pelita” dengan bangga hadir sebagai pertunjukan science fiction futuristik yang merupakan hasil adaptasi dari 20 lagu populer milik grup musik MALIQ & D’Essentials. Karya kolaborasi antara Jakarta Movin, MALIQ & D’Essentials, serta Indonesia Kaya ini tidak hanya memperkuat tren adaptasi musik pop ke panggung teater di Tanah Air, tetapi juga berhasil menyajikan sebuah narasi apokaliptik yang imajinatif dengan visi artistik yang segar.
Musikal ini membawa penonton melompat ke masa depan suram di mana dunia berada di ambang kehancuran total akibat perubahan iklim, pandemi berkepanjangan, konflik tanpa akhir, serta keserakahan manusia yang tak terkendali. Dalam kondisi krisis ini, terjadi sebuah fenomena mengerikan di mana seluruh populasi orang dewasa menghilang secara misterius, meninggalkan dunia yang porak-poranda untuk diwariskan kepada anak-anak. Di tengah situasi yang kacau inilah Arah, seorang anak pemberani, menginisiasi pembentukan “Pasukan Pelita”. Kelompok ini terdiri dari sembilan anak dengan keahlian dan kemampuan unik yang saling melengkapi, antara lain Volta yang menguasai listrik dan mekanika, Lanit sang pembaca bintang yang ahli astronomi, Hara yang memiliki pengetahuan mendalam tentang tumbuhan, Binbin yang mampu memahami bahasa hewan, serta Lagu yang peka terhadap musik dan suara
“Jakarta Movin telah menunjukkan konsistensi yang luar biasa dalam menghadirkan karya seni pertunjukan, khususnya musikal, dengan kualitas yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Melalui Musikal Senja Teduh Pelita, kami melihat bagaimana sebuah cerita yang unik dan relevan dengan tantangan masa depan dapat dikemas menjadi pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi dan mengajak penonton berefleksi. Mengadaptasi lagu-lagu MALIQ & D’Essentials yang kaya akan pesan tentang kehidupan, harapan, dan kemanusiaan,” ujar Billy Gamaliel, Program Manager Indonesia Kaya, Rabu (3/6/2026).
Perjalanan dramatis Pasukan Pelita dimulai dari misi pencarian orang tua mereka yang hilang menuju Aurora, namun kemudian terdampar di sebuah tempat yang masih asri bernama Teluk Pelita setelah dihantam badai besar. Di sinilah inti konflik cerita muncul, mempertanyakan makna sebenarnya dari “pulang” dan “harapan”. Produser dan sutradara Nuya Susantono berhasil meramu sekitar 20 lagu MALIQ, termasuk “Senja Teduh Pelita”, “Himalaya”, “Aurora”, “Jalan Pulang”, serta lagu-lagu dari album terbaru “Begini Begitu” menjadi instrumen penting yang membangun emosi, konflik, dan perjalanan tokoh.
Menariknya, proses adaptasi ini bahkan memberikan pemahaman baru bagi sang pencipta lagu itu sendiri. Vokalis MALIQ, Angga Puradiredja, mengakui bahwa ia baru benar-benar memahami makna mendalam dari lagu-lagu di album ketujuh mereka yang bertema kehidupan setelah melihatnya diolah menjadi naskah teater oleh sutradara Nuya Susantono.
“Pertunjukan ini menghadirkan pengalaman yang dekat dengan berbagai a generasi penonton. Kami bangga dapat mendukung karya yang lahir dari kolektif seni pertunjukan yang secara konsisten membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat, belajar, dan berkarya. Upaya seperti ini sangat penting untuk mendorong semakin banyak talenta muda berpartisipasi dalam dunia seni pertunjukan, sehingga ekosistem seni pertunjukan Indonesia dapat terus tumbuh, berkelanjutan, dan melahirkan karya-karya berkualitas di masa depan,” ia menambahkan.
Kisah tentang harapan, keberanian, dan kesempatan kedua bagi bumi inilah yang dihadirkan dalam Musikal Senja Teduh Pelita, pertunjukan musikal terbaru Jakarta Movin berkolaborasi dengan MALIQ & D’Essentials dan didukung Indonesia Kaya yang akan dipentaskan pada 3 – 12 Juli 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
