Harga Emas Antam Anjlok, Sentuh Level Terendah

Emas Antam

ASIAWORLDVIEW – Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam), hari ini, Kamis (28/5/026), mencatatkan penurunan signifikan sebesar Rp31.000 per gram. Harga jualnya berada di posisi Rp2.754.000 per gram.

Koreksi harga ini bahkan disebut sebagai yang terdalam dalam dua hari berturut-turut, mengingat sehari sebelumnya (27 Mei 2026) harga Antam sudah turun Rp13.000 dari Rp2.798.000 menjadi Rp2.785.000 per gram. Dengan demikian, dalam kurun waktu hanya dua hari, harga jual emas Antam telah terkoreksi total sekitar Rp44.000 per gram atau anjlok sekitar 1,57% dari level Rp2.798.000 menjadi Rp2.754.000 per gram.

Harga buyback (harga beli kembali emas dari Antam) ikut ambles hingga Rp37.000 menjadi Rp2.557.000 per gram. Selisih (spread) antara harga jual dan buyback pun melebar menjadi Rp197.000 per gram, mencerminkan tingginya premi (ongkos produksi, distribusi, dan pajak) yang dikenakan Antam. Sementara itu, harga emas Antam dengan ukuran cetakan terkecil, yaitu 0,5 gram, turut turun menjadi Rp1.427.000.

Pelemahan harga emas global tersebut terjadi di tengah perpaduan berbagai faktor fundamental yang saling bertentangan. Ekspektasi kenaikan suku bunga (hawkish) oleh Federal Reserve (The Fed) menjadi salah satu tekanan terbesar bagi emas — karena instrumen safe haven yang tidak memberikan imbal hasil ini cenderung kurang menarik di saat suku bunga acuan AS dan imbal hasil obligasi riil meningkat.

Baca Juga: Emas Jadi Safe Haven, Permintaan Emas Naik 47 Persen

Saat ini, suku bunga The Fed berada di kisaran 3,5%–3,75%, dan para pejabat bank sentral AS masih mewanti-wanti risiko inflasi dari eskalasi konflik Timur Tengah. Pasar pun memperkirakan bahwa bank sentral AS masih memiliki peluang untuk kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun 2026.

Kondisi ini secara bertahap mendorong penguatan Indeks Dolar AS (DXY), yang pada Kamis (28/5) pagi stabil di level 99,288, mendekati posisi tertingginya sejak 22 Mei lalu.

Di sisi lain, konflik geopolitik yang berkepanjangan antara AS–Israel melawan Iran — yang dimulai sejak akhir Februari 2026 — juga menjadi faktor yang seharusnya bersifat bullish bagi emas. Namun, meningkatnya kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global akibat penutupan jalur suplai energi justru memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga, sehingga tekanan bearish terhadap emas menjadi lebih dominan.

Sejak pecahnya konflik pada Februari 2026, emas global sudah turun hampir 15% dari level tertinggi di awal tahun, fundamental geopolitik dan moneter yang saling tarik-menarik ini terus membatasi pemulihan harga si logam mulia. Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan militer terbaru ke Iran yang memicu lonjakan harga minyak mentah dan memperkuat kekhawatiran inflasi yang akhirnya justru menjadi pemicu aksi jual di pasar emas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *