ASIAWORLDVIEW – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah akan mengoptimalkan kontribusi sektor swasta sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Hal ini dilakukan guna mencapai target 6,5 persen yang ditetapkan untuk tahun 2027.
“Saat ini, khusus tahun ini saja, kami sedang berupaya mendorong (pertumbuhan ekonomi) mendekati 6 persen, sehingga peluangnya sangat besar. Saya berharap tahun depan mesin-mesin sektor swasta akan berjalan lebih baik daripada saat ini,” kata Menteri Purbaya di Jakarta.
Menteri Purbaya menilai target pertumbuhan tersebut realistis di tengah nilai tukar rupiah terus melemah hingga Rp17.700 per dolar AS. Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah untuk memperkuat rupiah, termasuk intervensi di pasar obligasi.
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Tren Positif Ekonomi Indonesia Mulai Terlihat
“Kami telah masuk ke pasar obligasi, namun ada juga langkah-langkah pemerintah yang akan secara signifikan memperkuat rupiah,” katanya.
Ia menyatakan bahwa asumsi nilai tukar untuk tahun depan telah dihitung dengan cermat. Untuk tahun 2027, pemerintah menargetkan pendapatan negara sebesar 11,82 persen-12,40 persen dari produk domestik bruto (PDB), sementara belanja negara diproyeksikan sebesar 13,62 persen-14,80 persen dari PDB. Defisit fiskal ditargetkan sebesar 1,8 persen-2,4 persen dari PDB.
“Kami telah menghitung asumsi (makro) tersebut menggunakan model ekonometrik yang cukup kuat. Jadi, apa mesinnya? Ekonomi saat ini didorong oleh mesin sektor swasta yang baru mulai bergerak, belum beroperasi penuh. Saya pikir tahun depan akan bergerak lebih cepat,” kata Purbaya.
Mengenai kebijakan perpajakan, Menteri Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tidak berencana untuk menambah pajak baru tahun depan. Ia menjelaskan kemungkinan untuk secara bertahap menerapkan pajak baru jika kondisi ekonomi masyarakat dinilai lebih sehat.
“Ya, kami akan menilainya secara selektif… kami tidak akan menerapkan pajak yang dapat mengganggu daya beli masyarakat dan mengacaukan arah perekonomian,” tambahnya.
