IHSG Melemah di Tengah Badai Sentimen Global

Ilustrasi penurunan harga saham.(freepik)

ASIAWORLDVIEW Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan pada awal pekan ini, didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap era suku bunga tinggi yang berkepanjangan akibat eskalasi konflik global. Pada pembukaan perdagangan Senin (18/5/2026), IHSG langsung ambruk hingga -3,87 persen ke level yang cukup dalam, dengan mayoritas saham berada di zona merah.

Faktor utama yang memicu aksi jali masif ini, memanasnya kembali konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan yang berkepanjangan di Timur Tengah tersebut tidak hanya meningkatkan ketidakpastian global, tetapi juga mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia yang tembus di atas USD105 per barel.

Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi global, terutama di AS, tidak akan mereda dalam waktu dekat dan bahkan bisa menjadi struktural. Sebagai dampaknya, ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral AS (The Fed) berubah drastis.

Baca Juga: Rotasi Saham Terjadi: IHSG Terkoreksi, LQ45 Jadi Penopang

Alih-alih melakukan pelonggaran, para investor kini memperhitungkan skenario higher for longer, di mana The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi lebih lama untuk menjinakkan inflasi. Hal ini diperkuat oleh data inflasi AS terbaru yang masih bertahan tinggi, mematahkan harapan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Perubahan ekspektasi ini memicu repricing di seluruh pasar keuangan global, yang langsung berdampak pada negara berkembang seperti Indonesia.

Selain itu, konflik tersebut telah mengganggu jalur distribusi energi global, terutama di krisis Selat Hormuz, yang semakin memperkuat tekanan harga dan memaksa bank sentral global untuk bersikap agresif dalam menaikkan suku bunga.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, bahkan memperkirakan IHSG berpotensi menguji level support yang lebih rendah lagi jika situasi ini terus berlanjut. Pelemahan IHSG saat ini merupakan cerminan dari ketakutan kolektif pasar bahwa era suku bunga murah telah berakhir digantikan oleh periode biaya modal tinggi yang berkepanjangan, sebagai imbas dari gejolak geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *