ASIAWORLDVIEW – PT Pertamina, perusahaan minyak milik negara Indonesia, menyatakan bahwa mereka mengambil inspirasi dari keberhasilan Brasil dalam mengembangkan bahan bakar etanol pada Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di Belém, Brasil. Langkah ini mencerminkan komitmen Pertamina untuk mempercepat transisi energi menuju sumber yang lebih bersih dan berkelanjutan.
“Brasil telah sangat sukses dalam mengembangkan etanol,” kata Direktur Transformasi Bisnis dan Keberlanjutan Pertamina, Agung Wicaksono, dikutip Asiaworldview dari Antara, Rabu (12/11/2025)/
Brasil dikenal sebagai salah satu negara yang paling sukses dalam memanfaatkan etanol berbasis tebu sebagai alternatif bahan bakar fosil, sehingga menjadi contoh nyata bagaimana inovasi energi terbarukan dapat mendukung ketahanan energi sekaligus mengurangi emisi karbon. Dengan mencontoh praktik terbaik tersebut, Pertamina berupaya memperkuat strategi energi hijau Indonesia, memperluas pemanfaatan biofuel, serta mendukung target pemerintah dalam mencapai net zero emission di masa depan.
Baca Juga: Dorong Ekonomi Hijau, Indonesia Jual Kredit Karbon Rp16 Triliun
Ia menekankan bahwa biofuel memainkan peran vital dalam meningkatkan keamanan energi, mempromosikan keberlanjutan lingkungan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Apalagi bagi komunitas lokal.
Program etanol Brasil telah memberikan manfaat nyata, dengan petani memperoleh penghasilan lebih tinggi dan ekonomi nasional semakin kuat melalui produksi etanol berbasis tebu. Pertamina berencana mengadakan pertemuan bisnis dengan pemimpin perusahaan bioethanol Brasil untuk menjajaki kolaborasi potensial dan belajar dari pengalaman mereka
“Kami datang ke COP30 untuk mempelajari etanol tidak hanya sebagai bahan bakar hijau, tetapi sebagai solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor bahan bakar fosil,” tambah Wicaksono.
COP30 berlangsung dari 10 hingga 21 November 2025 di Belém. Di acara tersebut, Paviliun Indonesia berfungsi sebagai platform untuk memamerkan diplomasi hijau negara dan inisiatif iklim lintas sektor yang mencakup kehutanan, energi, industri, dan pengelolaan limbah. Paviliun ini juga memfasilitasi kerja sama bilateral dengan mitra strategis seperti Inggris dan The Royal Foundation, bertujuan untuk memperkuat pembiayaan hijau dan mempercepat transfer teknologi rendah emisi.
