ASIAWORLDVIEW – Permainan tradisional bukan sekadar nostalgia, melainkan instrumen penting dalam tumbuh dan kembang anak. Setiap jenis permainan secara alami merangsang aspek fisik, kognitif, sosial-emosional, dan budaya secara bersamaan dalam suasana yang menyenangkan.
Anak-anak yang bermain permainan tradisional belajar bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan sarana pembelajaran yang menyeluruh. Anak-anak yang bermain permainan tradisional belajar berinteraksi sosial, memahami aturan, bekerja sama, dan mengembangkan empati. Hal ini berbeda dengan permainan digital yang cenderung individual dan pasif.
“Permainan tradisional melatih motorik kasar dan halus, seperti keseimbangan, koordinasi, dan ketangkasan tubuh, sekaligus menumbuhkan kreativitas karena banyak permainan dapat dibuat dari bahan sederhana di sekitar mereka. Selain itu, mengurangi paparan digital terlalu lama,” sebut Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria.
Baca Juga: Menjaga Mood Saat Mengobati Luka Anak, Kunci Perawatan yang Tepat
Permaina tradisional juga menjaga keseimbangan, serta mengkoordinasikan gerakan tangan dan mata, sehingga keterampilan motorik kasar dan halus terasah dengan optimal, kelenturan dan kekuatan otot meningkat. Alhasil risiko obesitas menurun karena aktivitas dilakukan di luar ruangan dan melibatkan gerak seluruh tubuh.
“Permainan egrang bisa menjadi satu tombol pause, tombol jeda dari intensitas yang begitu tinggi masuknya kita ke ruang digital. Permainan fisik seperti ini memberikan banyak pelajaran tentang keseimbangan, kerja sama, dan gotong royong,” ia menambahkan.
Dari sisi kognitif, congklak mengajarkan konsep berhitung, strategi distribusi biji, dan perencanaan langkah ke depan; engklek melatih pengenalan bentuk geometri dan keseimbangan spasial; sementara petak umpet membangun kemampuan memecahkan masalah dan berpikir kritis saat anak harus mencari tempat persembunyian strategis atau menebak lokasi teman.
Lebih dari itu, permainan tradisional sarat dengan interaksi sosial langsung yang mendorong anak untuk berkomunikasi, bernegosiasi, memimpin, mengikuti aturan, serta mengelola konflik—misalnya saat terjadi selisih pendapat tentang sah atau tidaknya suatu sentuhan dalam permainan kucing-kucingan, anak belajar mengungkapkan pendapat, mendengarkan orang lain, dan mencari solusi bersama tanpa perantara layar.
Aspek emosional turut terbangun karena anak dilatih menerima kekalahan dengan lapang dada, merayakan kemenangan tanpa merendahkan, mengendalikan rasa kecewa, dan menumbuhkan empati melalui kerja sama tim; pengalaman-pengalaman ini memperkuat ketangguhan mental dan kecerdasan emosional yang sulit diperoleh dari permainan digital yang lebih individualistis.
