ASIAWORLDVIEW – Tekanan darah tinggi atau hipertensi pada anak, kondisi serius yang dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang, termasuk risiko penyakit jantung, stroke, dan kerusakan organ di masa dewasa. Meski sering tanpa gejala, hipertensi anak harus dikenali sejak dini agar dapat ditangani dengan tepat.
Tekanan darah anak secara konsisten berada di atas batas normal untuk usia, jenis kelamin, dan tinggi badannya. Untuk remaja berusia 13 tahun ke atas, standar diagnosisnya mengikuti kriteria orang dewasa, yaitu hipertensi tahap 1 dimulai pada angka 130/80 mmHg.
Di seluruh dunia, diperkirakan sekitar 4% anak-anak menderita hipertensi, dan di Indonesia sendiri, masalah ini tidak bisa dianggap remeh. Data dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2025 menunjukkan bahwa lebih dari 1,3 juta anak di Indonesia terdeteksi memiliki tekanan darah tinggi, dengan angka kejadian yang terus meningkat seiring dengan tren peningkatan obesitas pada anak.
Baca Juga: Mitos Kopi Jadi Penyebab Hipertensi, Apa Tanggapan Pakar Kesehatan?
Data menunjukkan bahwa anak-anak dengan hipertensi memiliki risiko kematian kardiovaskular prematur yang lebih tinggi yang dapat mencapai +40% hingga +48% dibandingkan dengan anak yang tekanan darahnya normal.
Jika tidak diobati, tekanan darah tinggi pada anak dapat menyebabkan kerusakan organ target yang serius. Misalnya penebalan dinding jantung (hipertrofi ventrikel kiri), kerusakan ginjal, dan masalah pembuluh darah lainnya yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular di masa dewasa.
Pendekatan pengobatan hipertensi pada anak bersifat bertahap dan komprehensif. Langkah awal dan paling utama adalah modifikasi gaya hidup, yang menjadi fondasi penting dalam penanganan, terutama untuk hipertensi primer. Ini termasuk menerapkan pola makan seimbang dengan diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) yang rendah garam dan kaya buah serta sayur.
Selain itu, membatasi konsumsi makanan olahan dan tinggi lemak. Selain itu, anak juga perlu didorong untuk rutin melakukan aktivitas fisik, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang setidaknya 30-60 menit setiap hari. Juga mengurangi kebiasaan menetap seperti menonton TV atau bermain gawai dalam waktu lama.
