Industri Tekstil Indonesia di Tengah Gejolak Global: Tantangan hingga Peluang Ekspor

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Jemmy Kartiwa Sastraatmadja.

ASIAWORLDVIEW – Ketegangan geopolitik seperti perang antara Iran dan Amerika Serikat memang tidak bisa dianggap jauh dari Indonesia, karena dampaknya terasa langsung pada sektor ekonomi global. Padahal, salah satu efek paling nyata adalah kenaikan harga minyak mentah, yang kemudian berimbas pada harga bahan bakar di dalam negeri.

Namun, dampaknya tidak berhenti di situ—kenaikan harga energi juga memengaruhi berbagai lini industri lain, termasuk tekstil, transportasi, hingga logistik, karena biaya produksi dan distribusi ikut meningkat.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Jemmy Kartiwa Sastraatmadja. Menurutnya, perang antara Iran dan Amerika Serikat memberi dampak langsung terhadap perekonomian Indonesia merembet ke industri tekstil.

“Lonjakan harga tersebut bukan hanya memengaruhi biaya bahan bakar, tetapi juga merembet ke berbagai sektor lain, termasuk industri tekstil. Dengan biaya produksi dan distribusi yang meningkat, pelaku usaha tekstil harus lebih berhati-hati dalam menentukan langkah ke depan, sehingga pemantauan terhadap perkembangan harga energi global menjadi hal yang sangat penting,” ia mengatakan di Konferensi pers Pameran tekstil dan garmen terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara, Indo Intertex & Inatex.

Baca Juga: Indo Intertex & Inatex 2026, Pusat Inovasi Tekstil dan Garmen Asia Tenggara

Namun penerapan tarif nol persen melalui kesepakatan perdagangan ini memberikan angin segar bagi industri tekstil nasional. Dengan adanya kebijakan tersebut, beban biaya impor bahan baku dapat ditekan, sehingga membuka peluang bagi produsen lokal untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional.

Selain itu, tarif nol persen juga mendorong efisiensi produksi dan memperbesar ruang bagi ekspor tekstil Indonesia. Hal ini menumbuhkan optimisme baru di kalangan pelaku usaha, karena mereka dapat lebih fokus pada peningkatan kualitas dan inovasi produk tanpa terlalu terbebani oleh biaya tambahan dari tarif impor.

“Penerapan tarif nol persen melalui kesepakatan ini memberikan optimisme baru bagi industro tekstil nasional. Akses ke pasar global pun semakin terbuka, sehingga memperkuat daya Indonesia di momentum yang tepat. Kami berharap ini dapat menjadi titik awal kebangkitan industri tekstil dan produk tekstil (TPT), dengan mendorong masuknya investasi, meningkat kinerja ekspor, serta menggerakkan kembali seluruh ekosistem industri,” ia menambahkan.