Menteri Yassierli: Gelombang PHK Terbesar Ada di Jawa Tengah, Jakarta dan Riau

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli

ASIAWORLDVIEW – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Indonesia terus meningkat pada tahun 2025, dengan 24.036 pekerja terkena dampaknya hingga April. Sektor yang paling terdampak adalah industri pengolahan, diikuti oleh perdagangan besar dan eceran, serta jasa lainnya.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, menandai hampir sepertiga dari total PHK yang tercatat pada tahun 2024. Berbicara selama sidang dengan anggota Komisi XI DPR, yang mengawasi ketenagakerjaan, jaminan sosial, dan kesehatan pada hari Senin (5/5/2025), Yassierli mengatakan PHK telah mempengaruhi berbagai sektor dan terkonsentrasi di tiga provinsi: Jawa Tengah (10.692 pekerja), Jakarta (4.649), dan Riau (3.546).

“Perusahaan memberhentikan karyawan karena kerugian, relokasi untuk mencari tenaga kerja yang lebih murah, perselisihan industrial, tindakan pembalasan setelah pemogokan, atau sebagai bagian dari langkah-langkah efisiensi,” kata Yassierli kepada anggota parlemen.

Baca Juga: Angka PHK Massal di Indonesia Meroket, 60.000 Karyawan Terkena Dampak

Selain itu, industri media juga mengalami PHK besar-besaran, dengan lebih dari 1.200 pekerja terdampak dalam dua tahun terakhir. Perusahaan seperti Kompas TV, ANTV, dan NET TV telah melakukan perampingan karyawan sebagai respons terhadap tekanan ekonomi dan perubahan lanskap digital.

Ia mencatat, angka PHK terbesar dalam lima tahun terakhir terjadi pada 2020 saat pandemi COVID-19 mulai merebak, yakni sebanyak 386.877 pekerja kehilangan pekerjaan. Angka tersebut turun menjadi 127.085 pada 2021, lalu turun lagi menjadi 25.114 pada 2022.

Meskipun terjadi gelombang PHK, sektor industri pakaian justru mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja. Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif, seperti insentif pajak, restrukturisasi utang, dan diversifikasi pasar ekspor, untuk mengurangi dampak PHK.