Pelembut Kain dengan UV Serum, Solusi Bau Matahari dan Polusi pada Pakaian

“Royale by SoKlin Sun-Day Fest”,

ASIAWORLDVIEW Bau matahari pada pakaian terjadi karena kombinasi panas sinar matahari, kelembapan sisa pada serat kain, serta interaksi dengan polusi udara yang menempel saat proses penjemuran. Faktor ini memicu pertumbuhan bakteri dan oksidasi senyawa organik, sehingga menghasilkan aroma khas yang sering dianggap apek atau menyengat.

Royale by SoKlin memperkenalkan pelembut pakaian konsentrat dengan teknologi UV Serum sebagai solusi untuk masalah “bau matahari” dan polusi yang sering menempel pada pakaian setelah dijemur. Produk ini dirancang untuk memberikan perlindungan ekstra terhadap paparan sinar matahari dan polusi udara, sehingga serat kain tetap lembut, harum, dan lebih tahan lama.

“Royale by SoKlin lahir dari komitmen perusahaan kami untuk terus berinovasi menghadirkan produk berkualitas yang relevan dengan kebutuhan konsumen. Perawatan pakaian itu penting sekali dan harus diperhatikan langkah-langkahnya,” Marketing Manager Fabric Conditioner Category WINGS Group Indonesia, Meliana Sri Rahayu Widodo, mengatakan, Minggu (29/3/2026).

Baca Juga: SoKlin Kenalkan Detergen Baru, Inovasi di Tengah Polusi

Fenomena “bau matahari” dan polusi pada pakaian setelah dijemur terjadi karena beberapa faktor yang saling berkaitan. Paparan sinar matahari langsung membuat panas ekstrem bereaksi dengan sisa kelembapan atau keringat pada serat kain, sehingga memicu pertumbuhan bakteri dan menghasilkan aroma asam atau apek.

“Untuk mengatasi bau matahari, pakaian dicuci bersih menggunakan deterjen 2in1. Step kedua, pakaian yang sudah dicuci, harus langsung direndam dengan Royale by SoKlin pelembut pakaian konsentrat. Pakaian jadi wangi dan lembut sepanjang hari karena Royale by SoKlin dengan UV Serum hadir sebagai solusi inovatif yang membantu melindungi pakaian dari partikel penyebab bau yang menempel pada serat kain,” jelasnya.

Lingkungan penjemuran juga berperan besar: jika pakaian dijemur di area dengan polusi tinggi. Misalnya, dekat jalan raya atau dapur, partikel debu dan asap dapat menempel pada kain dan menimbulkan bau tidak sedap.

Selain itu, bakteri yang tidak sepenuhnya hilang saat proses pencucian bisa kembali aktif ketika terkena panas, menghasilkan aroma khas yang sering disebut bau matahari. Pakaian yang tidak benar-benar kering atau dijemur di tempat lembap juga lebih rentan berbau ketika dipakai kembali. Kombinasi panas, kelembapan, bakteri, dan polusi inilah yang membuat pakaian kehilangan kesegaran meski sudah dicuci.

“Pakaian tetap wangi dan bebas dari bau apek, bau matahari, maupun polusi, sehingga penampilan tetap fresh dan on-point sepanjang hari,” ia menambahkan.