Nyepi 2026: Keheningan Menyambut Tahun Baru Saka

mat Hindu sembahyang di pura.(freepik) (1)

ASIAWORLDVIEW – Nyepi jatuh pada hari ini, Kamis (19/3/2026), dimulai pukul 06.00 dan berakhir 24 jam kemudian pada pukul 06.00 hari Jumat, 20 Maret 2026. Tanggalnya berubah setiap tahun sesuai dengan kalender Saka Bali, jadi sebaiknya periksa terlebih dahulu jika Anda sedang merencanakan perjalanan.

Bagi masyarakat Bali, Nyepi menandai dimulainya Tahun Baru Saka, yang didedikasikan untuk membersihkan pulau dari energi negatif dan memulai tahun dengan kejernihan dan keseimbangan.

Mengutip jurnal Tampung Penyang: Jurnal Ilmu Agama dan Budaya Hindu. Volume 19. Nomor 2. 2021, Penggunaan tahun baru Saka diresmikan pada waktu penobatan Raja Kaniska I di India dan selanjutnya berkembang sampai ke Indonesia, membawa perubahan yang sangat besar dan mendasar bagi bangsa Indonesia ke kepulauan Indonesia yang dahulu bernama Nusantara, sebelum datangnya pengaruh Hindu masih dalam keadaan buta huruf, mereka hidup dalam suasana alam prasejarah.

Pada Hari Raya Nyepi, umat Hindu tidak boleh melakukan aktivitas baik itu keluar rumah maupun menyalakan api atau lampu di malam hari pada pelaksanaan Hari Raya Nyepi yang sedang berlangsung. Karena pada perayaan ini seluruh masyarakat umat Hindu sedang menyepi (hening), menjalankan puasa satu hari serta diam di dalam rumah dan tidak boleh keluar ataupun ribut maupun berkeliaran di luar (beraktivitas).

Baca Juga: Pererenan: Surga Gastronomi Bali dengan Nuansa Lebih Syahdu

Keheningan yang dijalani saat Nyepi, yang berasal dari kata “sepi” atau sunyi, menjadi simbol pengendalian diri dari hawa nafsu dan hiruk pikuk dunia. Dalam keheningan itu, umat Hindu diajak untuk melakukan refleksi diri, mengevaluasi perbuatan, serta memperbaiki sikap agar lebih selaras dengan nilai dharma atau kebenaran. Nyepi juga dimaknai sebagai penyucian batin, sebuah kesempatan untuk membersihkan pikiran dan jiwa sehingga tercapai kedamaian batin dan keseimbangan spiritual.

Banten, sarana untuk umat HIndu sembahyang sebagai sesembahan.
Banten, sarana untuk umat HIndu sembahyang sebagai sesembahan.

Nyepi menegaskan harmoni dengan alam: dengan berhenti dari segala aktivitas, manusia memberi kesempatan bagi bumi untuk beristirahat, seakan mengingatkan bahwa kehidupan tidak hanya tentang manusia, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan dengan lingkungan. Dengan demikian, Nyepi bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan pesan universal tentang introspeksi, pengendalian diri, dan keselarasan hidup dengan alam semesta.

Nyepi tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari rangkaian upacara yang memiliki makna mendalam bagi umat Hindu. Rangkaian ini diawali dengan Melasti, yaitu prosesi penyucian diri dan benda-benda sakral di laut atau sumber air sebagai simbol pembersihan dari segala kotoran lahir dan batin. Sehari sebelum Nyepi dilaksanakan Tawur Kesanga, sebuah ritual untuk menetralisir energi negatif dan mengembalikan keseimbangan alam semesta.

Puncaknya adalah Catur Brata Penyepian, yaitu empat pantangan utama yang dijalani selama Nyepi: amati karya (tidak bekerja), amati geni (tidak menyalakan api atau listrik), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang). Pantangan ini bertujuan untuk membawa umat Hindu pada keheningan total, sehingga mereka dapat melakukan refleksi dan penyucian batin. Setelah Nyepi berakhir, umat Hindu merayakan Ngembak Geni, yaitu hari di mana aktivitas kembali berjalan dengan semangat baru, biasanya ditandai dengan saling memaafkan dan mempererat hubungan sosial.