Tradisi Kuah Beulangong, Hidangan Ramadan yang Melegenda di Aceh

Kuah Beulangong

ASIAWORLDVIEW – Kuah Beulangong, salah satu kuliner tradisional khas Aceh yang sangat populer, terutama dalam acara-acara besar seperti kenduri, perayaan keagamaan, dan tradisi malam pertengahan Ramadan. Masakan ini memiliki makna dan sangat penting bagi masyarakat.

Di Aceh, malam pertengahan bulan Ramadan menjadi momen istimewa yang sarat dengan tradisi keagamaan dan kebersamaan. Kuah Beulangong dibuat secara bergotong royong, kemudian dibagikan ke masyarakat, mengutip dari buku saku yang dikeluarkan Kemendikbud.

Hidangan ini berupa kari daging berkuah kental yang dimasak dalam kuali besar (beulangong). Bahan utama biasanya berupa daging sapi atau kambing yang dimasak bersama rempah-rempah khas Aceh seperti cabai, ketumbar, kunyit, lengkuas, jahe, dan serai, cita rasa pedas gurih yang kaya dan aromatik.

Memasak kuah beulangong merupakan memasak masakan tradisional khas Aceh Rayeuk yang sudah melegendaris. Sejak zaman kesultanan, kuah beulangong sudah mulai dimasak untuk kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat sebagai rasa syukur.

Baca Juga: Rimo-rimo dan Gohu Ikan, Jejak Kuliner Nusantara di Jalur Rempah

Warga Aceh biasanya menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Selain bahan dan momentumnya, hal yang menarik dari kuah beulangong ini adalah proses memasaknya. Untuk memasak kuah beulangong ini, dibutuhkan kuali sangat besar yang dapat memuat kuah beulangong mencapai 200 porsi.

Selanjutnya, bahan utama seperti daging sapi atau leumo harus dicincang atau dipotong kecil-kecil lalu dibersihkan dengan menggunakan wadah yang besar. Menariknya, proses ini hanya dilakukan oleh kaum pria saja.

Kuah beulangong bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol kebersamaan dan solidaritas sosial. Tradisi memasak dan menyantap kuah beulangong memperkuat ikatan antarwarga, sekaligus melestarikan warisan kuliner Aceh yang sarat makna budaya dan religius.

Dengan porsinya yang besar, hidangan ini dibagikan kepada seluruh jamaah dan masyarakat sekitar, menegaskan nilai berbagi dan kebersamaan yang menjadi inti dari kehidupan sosial masyarakat Aceh.