ASIAWORLDVIEW – Dunia saat ini tengah diliputi ketidakpastian yang semakin meningkat akibat ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Meskipun konflik tersebut terjadi jauh dari Indonesia, dampaknya tetap terasa, terutama di Bali yang perekonomiannya sangat bergantung pada sektor pariwisata.
Penutupan ruang udara di Timur Tengah mengganggu jalur penerbangan internasional, menyebabkan pembatalan puluhan penerbangan dan ribuan penumpang tertahan. Kondisi ini langsung berimbas pada penurunan jumlah wisatawan asing ke Bali, sehingga menekan aktivitas ekonomi lokal yang bertumpu pada kedatangan turis mancanegara.
Ketegangan di Timur Tengah telah menyebabkan penutupan wilayah udara secara luas, yang sangat mengganggu perjalanan udara internasional. Pihak manajemen Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali melaporkan bahwa antara serangan awal di Iran pada 28 Februari hingga 6 Maret 2026, total 64 penerbangan internasional dibatalkan, yang terdiri dari 34 penerbangan keberangkatan dan 30 penerbangan kedatangan.
Menurut data maskapai yang dikompilasi oleh operator bandara milik negara, Angkasa Pura Indonesia, di bandara tersebut, 8.187 penumpang internasional yang dijadwalkan berangkat selama periode tersebut terpaksa menunda perjalanan mereka.
Baca Juga: Ketegangan Timur Tengah Mulai Tekan Pariwisata Indonesia
Rata-rata, para penumpang yang terdampak telah memesan rute yang melibatkan transit di Doha, Abu Dhabi, dan Dubai sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.
Lalu lintas udara kini secara bertahap kembali normal seiring dengan pembukaan kembali ruang udara Timur Tengah, meskipun masih dalam skala terbatas dan di tengah situasi yang sangat tidak dapat diprediksi.
Pasar pariwisata yang sedang berkembang seperti India, China, Korea Selatan, Jepang, dan negara-negara Asia Tenggara menawarkan peluang yang signifikan. Banyak penerbangan langsung yang menghubungkan Bali dengan negara-negara tersebut tanpa perlu transit melalui hub-hub di Timur Tengah seperti Doha, Dubai, dan Abu Dhabi.
Jumlah kedatangan wisatawan dari pasar-pasar ini juga terus meningkat. Menurut data tahun 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, India menempati peringkat kedua dalam jumlah kedatangan wisatawan dengan lebih dari 569.000 pengunjung, diikuti oleh Tiongkok dengan lebih dari 537.000.
Strategi kedua melibatkan pemeliharaan pasar tradisional yang secara konsisten mendukung sektor pariwisata Bali, terutama Australia.
Sebagai tetangga selatan Indonesia, Australia telah kembali menjadi sumber wisatawan asing terbesar ke Bali pasca pandemi COVID-19, dengan lebih dari 1,6 juta kedatangan pada tahun 2025.
